WWW.KABARNUSANTARA.ID

Satu Informasi Untuk Nusantara

Mengenal Syekh Nur Faqih Tanjung Singguru, Turunan Sunan Gunung Jati, Penyebar Agama Islam Di Garut

2 min read

GARUT, KABARNUSANTARA.ID – Sunan Gunung Jati, yang memiliki nama asli Syekh Syarif Hidayatullah menjadi penyebar agama Islam di Jawa Barat yang diikuti oleh para keturunannya. Salah satu keturunan Syekh Syarif Hidayatullah yang menyebarkan agama Islam di Kabupaten Garut, adalah Embah Ajengan Nur Faqih, yang menjadi turunan ke-10 dari Sunan Gunung Jati.

Embah Ajengan Nur Faqih (Syekh Nur Faqih) sendiri, melakukan syiar agama Islam dengan cara mendirikan sebuah Pondok Pesantren di daerah Tanjung Singguru yang saat ini berada di Desa Tanjungkarya Kecamatan Samarang yang dahulu sebelum nama Garut muncul dikenal sebagai kawasan Timbanganten (Tjimanganten).

Pondok Pesantren Tanjung Singguru, dimasa Embah Ajengan Nur Faqih, menjadi pondok pesantren besar yang begitu dihormati oleh Kerajaan Timbanganten dan pemerintahan kolonial Belanda. Embah Ajengan Nur Faqih sendiri, menjadi tokoh agama besar dan pemimpin ulama di kawasan Timbanganten.

Pada masa keemasan Pondok Pesantren Tanjung Singguru, santri yang belajar di pondok pesantren ini, tidak hanya dari Garut. Namun juga berasal dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur hingga dari Pulau Sumatera dan Madura.

Atas Rahmat Allah SWT, Syekh Nur Faqih juga memiliki pengaruh yang kuat hingga pemerintah kolonial Belanda saat itu, memberi hak otonomi khusus bagi wilayah Tanjung Singguru yang terdiri dari 12 kampung yang batasnya di wilayah timur Kampung Batu Nanceb, wilayah Barat Kampung Cidadali, wilayah Selatan Kampung Geger Pasang dan batas wilayah utara adalah Gunung Gede (Guntur) dengan dipimpin langsung Syekh Nur Faqih dan dibantu seorang Senopati yaitu Raden Bagus Angga Singa.

Dibawah pimpinan Syeikh Nur Faqieh, 12 kampung ini mendapat hak istimewa dari pemerintah kolonial Belanda berupa pembebasan dari pajak, cukai dan kerja paksa karena pada masa itu, pemerintah kolonial Belanda tengah mempekerjakan warga untuk berjaga di kaki Gunung Guntur.

Karena mendapat hak istimewa bebas dari pajak dan lainnya, warga di 12 kampung ini bisa hidup makmur diatas tanah yang memang terkenal subur. Syekh Nur Faqih sendiri, diperkirakan wafat pada tahun 1711 M. Pondok Pesantren Tanjung Singguru pun, selanjutnya dipimpin oleh keturunannya yaitu Syekh Qomaruddin dan dilanjutkan oleh Syekh Nur Wajah.

Pondok Pesantren Tanjung Singguru sendiri, diperkirakan mulai runtuh setelah Syekh Nur Wajah wafat. Meski demikian, anak keturunan Syekh Nur Faqih lainnya banyak mendirikan pondok pesantren di berbagai daerah diantaranya :

1. Raden Istri Embah Puja (Kaum Tarogong Garut)
2. Raden Kyai Nursaman (Copong Garut)
3. Embah Nur-Sa-Iman (Tarogong Garut)
4. Embah Nur-Samin (Paseh Bandung)
5. Embah Nur-Syiyam (Gurundung)
6. Embah Ajengan Fakkaruddin (Al-Falah Biru Tarogong Garut)
7. Embah Ajengan Komaruddin (Tanjung Singuru)
8. Embah Sayaman (Cijengkol di Kalar)
9. Raden Kyiai Syamsuddin (Bojong Sirna).

Adapun silsilah Syekh Nur Faqih yang merupakan keturunan ke sepuluh dari Sunan Gunung Djati yang memiliki nama asli Syekh Syarif Hidayatullah adalah (diurutkan dari yang teratas) :

1. Panembahan Pasarean (Anak Sunan Gunung Jati dari istri ke-5, Nyi Rara Tepasan)
2. Penembahan Dipati Syuwarga (Anak Panembahan Pasarean)
3. Sulthon Panembahan Ratu (Dipati Sedang Madya Gayam)
4. Sulthon Syamsuddin (Dipati Sedang Madya Gayam)
5. Sultan Giri Laya
6. Sultan Dipati Anom
7. Ariya Salingsingan Panembahan Amir
8. Syeikh Kamaludin
9. Embah Ajengan Nur-Kamaluddin
10. Embah Ajengan Nur-Faqieh (Tanjung Singguru).***

Sumber : Sejarah Bani-Faqieh Al-Falah Biru-Garut Edisi Ke Dua dan dilengkapi Sejarah Torekat-Tijaani dan Hizbulloh / R. Aceng Tajul Arifin/ November 2006.

Tinggalkan Balasan