WWW.KABARNUSANTARA.ID

Satu Informasi Untuk Nusantara

Karomah Syaikhuna Badruzzaman, Keturunan Sunan Gunung Jati di Garut, Bisa Lolos Dari Sergapan Tentara Belanda

2 min read

GARUT, KABARNUSANTARA.ID – Syaikhuna Badruzzaman, ulama besar asal Garut yang juga keturunan Sunan Gunung Jati, merupakan salahsatu ulama Garut yang paling dicari oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa penjajahan.

Karena, selain pendiri Hizbullah yang aktif melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda, Syaikhuna Badruzzaman juga jadi penyebar dan pemimpin Tarekat Tijani yang dipandang mampu meningkatkan keimanan umat Islam yang jadi kekuatan khusus umat Islam dalam melawan pemerintah kolonial Belanda.

Karenanya, semasa hidupnya, meski jadi pimpinan Pondok Pesantren Al Falah Biru yang saat ini ada di Desa Mekargalih Kecamatan Tarogong Kidul, Syaikhuna Badruzzaman selalu berpindah-pindah menghindari kejaran pasukan Belanda.

Dikutip dari buku sejarah Bani Faqih Al Falah Biru karya Aceng Tajul Arifin 2006, dari hasil wawancara penulis tahun 2005 dengan Haji Didi (92) yang biasa dipanggil Akeh pada masa itu, di masa pelariannya dari kejaran Belanda, Syaikhuna Badruzzaman selalu bisa lolos dari sergapan tentara Belanda dengan berbagai cara yang kadang diluar nalar.

Akeh sendiri yang pada masa itu, jadi bagian dari Hizbullah bentukan Syaikhuna Badruzzaman selalu mendampingi Syaikhuna Badruzzaman selama berjuang melawan pemerintah kolonial Belanda. Salahsatu yang paling diingat Akeh adalah, Syaikhuna Badruzzaman selalu bisa lolos dari sergapan Belanda karena, Syaikhuna selalu tahu terlebih dahulu rencana penyergapannya.

Akeh menceritakan, pernah satu waktu, Syaikhuna Badruzzaman tengah bersembunyi di rumah orangtua Akeh yang berada di Kampung Nunggal, tidak jauh dari Kampung Cimencek di Kecamatan Samarang Garut dan tentara Belanda pun mengetahui keberadaannya dari informasi mata-mata Belanda.

Kurang lebih satu pleton tentara Belanda dengan senjata berat lengkap pun diturunkan. Namun, anehnya saat itu tentara Belanda hanya sampai ke Kampung Cimencek yang jaraknya sekitar 250 meter dari Kampung Nunggal dan hanya dipisahkan oleh hamparan sawah.

Di kampung Cimencek, tentara Belanda memasang persenjataan berat sambil memantau Kampung Nunggal melalui teropong dan bersiap melakukan penyerangan. Namun, setelah melihat dari teropong di Kampung Nunggal hanya ada petani dan rakyat kecil, hingga mereka pun memutuskan mundur.

Menurut Akeh, saat mengetahui ada puluhan tentara Belanda dengan senjata berat mengepung dan memantau Kampung Nunggal melalui teropong, dirinya sengaja meminta warga keluar dari rumah agar terlihat oleh tentara Belanda.

“Syariatnya dipagar oleh eyang (Syaikhuna Badruzzaman) oleh doa. Saya juga inisiatif untuk mengeluarkan warga dari rumah biar diperiksa Belanda,” kata Akeh melanjutkan.

Bersamaan dengan keluarnya warga dari rumah, Syaikhuna Badruzzaman lalu menyamar dengan mengganti pakaian kuli tani dan memakai topi petani sambil membawa cangkul dan pergi ke kebun singkong untuk mencangkul.

Dengan cara itu, tentara Belanda pun terkecoh hingga tidak sampai masuk ke Kampung Nunggal dan memilih menarik pasukan hingga tidak ada satupun peluru yang ditembakan oleh tentara Belanda. (*)

Tinggalkan Balasan