KABARNUSANTARA.ID - Harga minyak mentah dunia menunjukkan tren penguatan pada perdagangan Selasa pagi, 17 Maret 2026, setelah sebelumnya mengalami koreksi signifikan. Lonjakan ini disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran pasar mengenai stabilitas pasokan global akibat konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Berdasarkan data Refinitiv per Selasa (17/3/2026) pukul 09.10 WIB, harga minyak Brent mencapai US$103,05 per barel, sementara WTI berada di level US$95,96 per barel. Angka ini menunjukkan kenaikan substansial dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Kenaikan harga ini terjadi karena pasar kembali menyoroti potensi gangguan pasokan minyak global akibat ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Eskalasi geopolitik yang telah memasuki pekan ketiga ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap jalur distribusi energi dunia.
Dilansir dari Reuters, lonjakan harga minyak dipicu oleh kondisi yang mengganggu di Selat Hormuz, sebuah jalur perairan sempit yang sangat strategis. Selat ini bertanggung jawab mengalirkan sekitar 20% dari total perdagangan minyak dan gas alam cair dunia setiap harinya.
Situasi di kawasan tersebut semakin kompleks karena beberapa sekutu Amerika Serikat dilaporkan menolak permintaan Washington untuk mengerahkan kapal perang guna mengawal tanker minyak. Penolakan ini meningkatkan ketidakpastian keamanan bagi semua kapal pengangkut energi yang melintasi jalur krusial tersebut.
Gangguan logistik ini mulai memberikan dampak nyata pada produksi minyak di kawasan tersebut. Uni Emirat Arab, sebagai produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, dilaporkan terpaksa mengurangi produksinya secara signifikan.
Produksi minyak UEA disebut mengalami penurunan lebih dari separuhnya akibat terbatasnya opsi jalur ekspor yang tersedia melalui Selat Hormuz yang terganggu. Hal ini menggarisbawahi betapa krusialnya peran selat tersebut dalam perdagangan energi global.
Ketegangan geopolitik ini juga meningkatkan risiko keamanan terhadap kapal tanker minyak yang beroperasi di sana. Pasar energi mengkhawatirkan potensi serangan rudal atau ranjau yang dapat memperluas konflik sambil memperparah gangguan pasokan energi secara keseluruhan.
Menanggapi kondisi ini, Kepala Badan Energi Internasional (IEA) mengisyaratkan perlunya langkah stabilisasi pasar lebih lanjut. "Kepala Badan Energi Internasional (IEA) bahkan menyebut negara anggota dapat kembali melepas cadangan minyak strategis untuk menekan lonjakan harga energi," demikian laporan yang ada.