Jakarta – Harga minyak dunia mengalami lonjakan signifikan pada hari Rabu (18/2), melampaui angka 4%, setelah munculnya pernyataan dari Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, yang mengindikasikan kegagalan Iran dalam memenuhi tuntutan inti dalam perundingan nuklir yang berlangsung pekan ini. Pernyataan Vance ini langsung memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan antara kedua negara, mendorong para investor untuk bergegas membeli minyak sebagai aset safe haven.

Kenaikan harga minyak yang drastis ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap gejolak geopolitik, terutama yang melibatkan negara-negara produsen minyak utama seperti Iran. Kegagalan perundingan nuklir, yang sebelumnya sempat memberikan harapan akan stabilitas kawasan, kini membuka kembali prospek konflik dan ketidakpastian pasokan minyak global.

Menurut laporan dari CNBC yang dirilis pada hari Kamis (19/2/2026), harga minyak mentah AS (West Texas Intermediate/WTI) melonjak sebesar US$ 2,86 atau 4,59% selama sesi perdagangan Rabu, dan ditutup pada level US$ 65,19 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, juga mengalami kenaikan signifikan sebesar US$ 2,93 atau 4,35%, mencapai harga US$ 70,35 per barel.

Kenaikan harga minyak ini merupakan respons langsung terhadap pernyataan Vance yang meragukan keberhasilan perundingan nuklir. Sebelumnya, delegasi Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah melakukan perundingan dengan Iran di Jenewa pada hari Selasa (17/2). Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sempat memberikan komentar positif mengenai perundingan tersebut, menyebutnya konstruktif dan menghasilkan kesepakatan umum mengenai prinsip-prinsip panduan.

Komentar positif dari Araghchi tersebut sempat menenangkan pasar dan menyebabkan harga minyak ditutup lebih rendah pada akhir perdagangan hari Selasa. Para pedagang menafsirkan pernyataan Araghchi sebagai sinyal bahwa Iran, sebagai negara produsen minyak kaya, berpotensi mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya dengan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat mengurangi ketegangan regional dan membuka kembali akses Iran ke pasar minyak global, meningkatkan pasokan dan menekan harga.

Namun, harapan tersebut pupus dengan cepat setelah Vance memberikan pernyataan yang kontradiktif. Vance menegaskan bahwa Teheran gagal memenuhi tuntutan inti yang diajukan oleh Amerika Serikat. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa perundingan tersebut kemungkinan besar akan menemui jalan buntu karena perbedaan pendapat yang mendasar.

"Dalam beberapa hal berjalan baik, mereka sepakat untuk bertemu kembali setelahnya. Namun dalam hal lain sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan beberapa garis merah yang belum bersedia diakui dan dibahas oleh pihak Iran," kata Vance kepada Fox News pada Selasa malam.

Pernyataan Vance ini menimbulkan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat mungkin akan mengambil tindakan yang lebih agresif terhadap Iran untuk menghentikan program nuklirnya. Vance bahkan mengisyaratkan bahwa Presiden AS Donald Trump berhak untuk menggunakan kekuatan militer jika jalur diplomasi tidak berhasil. Kemungkinan penggunaan kekuatan militer oleh Amerika Serikat untuk menekan Iran tentu saja akan meningkatkan ketegangan regional secara signifikan dan berdampak buruk pada pasokan minyak global.

"Kita memang memiliki militer yang sangat kuat, Presiden telah menunjukkan kesediaan untuk menggunakannya," ucap Vance.