KABARNUSANTARA.ID - Seorang pria bernama Erlan Wimawan, yang kini berusia 49 tahun, menyimpan sebuah kisah pengabdian yang menyentuh hati publik. Pria yang lahir dan besar di tengah hiruk pikuk Jakarta ini memilih jalur profesional yang menuntut pengorbanan besar dalam hidupnya.

Sebagai seorang masinis kereta api, Erlan memiliki tanggung jawab vital selama periode puncak arus mudik Idulfitri. Tugasnya adalah memastikan ribuan pemudik dapat melakukan perjalanan pulang kampung dengan aman dan nyaman.

Pengabdian ini menuntutnya untuk merelakan momen kebersamaan sakral bersama keluarganya saat hari raya besar tiba. Ia harus mengesampingkan tradisi Lebaran demi menjalankan tugas negara di atas rel kereta api.

Fakta menarik dari pengabdiannya adalah durasi pengorbanan yang telah ia jalani selama ini. Ini bukanlah kali pertama atau kedua kalinya ia melewatkan momen Lebaran tanpa kehadiran keluarga di sisi.

Ternyata, sudah tercatat belasan tahun lamanya Erlan Wimawan mendedikasikan dirinya di kursi masinis saat hari raya fitri tiba. Pengorbanan waktu pribadi ini dilakukan tanpa pamrih demi kepentingan publik yang lebih luas.

Ia mendedikasikan waktu dan tenaganya secara penuh untuk mengantar ribuan pemudik. Semua dilakukan demi memastikan setiap penumpang dapat mencapai tujuan kampung halaman mereka dengan selamat sentosa.

Kisah pengabdian penuh haru yang jarang dialami oleh kebanyakan orang ini menjadi cerminan profesionalisme tinggi dalam profesi masinis. Ia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi mudik masyarakat Indonesia.

"Sebagai masinis, ia harus merelakan momen Lebaran tanpa keluarga di sisi," merupakan inti dari pengorbanan yang ia jalani setiap tahunnya, seperti yang tergambar dari dedikasinya.

Lebih lanjut, pengorbanan ini telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. "Bukan setahun atau dua tahun ia melewatkan Lebaran tanpa keluarga, melainkan sudah belasan tahun," demikian menggambarkan intensitas pengabdiannya.