Jakarta – Di tengah gejolak ekonomi global yang kian hari kian tak terprediksi, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) menyerukan kepada seluruh pengusaha di tanah air untuk mempererat barisan dan meningkatkan solidaritas. Tantangan yang menghadang di depan mata membutuhkan respons kolektif dan sinergi yang kuat, bukan hanya antar pengusaha, tetapi juga antara dunia usaha dengan pemerintah.
Ketua Umum BPP Hipmi, Akbar Himawan Buchari, menegaskan bahwa kunci utama untuk menavigasi ketidakpastian ini adalah persatuan. "Satu-satunya cara untuk menghadapi tantangan ekonomi global yang semakin kompleks adalah dengan tetap solid," ujarnya dengan nada penuh keyakinan. Lebih lanjut, Akbar menyampaikan apresiasi atas respons cepat dan proaktif dari pemerintah dalam memantau dan melakukan intervensi terhadap dinamika global. Komunikasi yang terbuka dan berkelanjutan antara pemerintah dan dunia usaha, menurutnya, sangat krusial dalam memastikan kebijakan yang tepat sasaran dan efektif. Hipmi, sebagai representasi pengusaha muda Indonesia, berkomitmen penuh untuk mendukung setiap upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Meskipun Indonesia saat ini belum merasakan dampak langsung yang signifikan dari konflik di kawasan Teluk, Akbar mengingatkan bahwa sebagai pelaku usaha, dirinya sangat berharap agar konflik tersebut dapat segera diselesaikan. Stabilitas, menurutnya, adalah fondasi utama bagi dunia usaha. Tanpa stabilitas, rencana ekspansi, investasi, dan operasional bisnis akan terhambat. Kenaikan harga bahan baku impor akibat konflik, misalnya, sudah mulai dirasakan oleh banyak pengusaha.
"Kita mau ekspansi, mau investasi, kita mau melaksanakan kegiatan operasional bisnis. Saat ini, bahan baku yang bergantung pada impor sudah terkena dampaknya," jelas Akbar. Kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah yang sempat menembus angka Rp 17.000 dan harga minyak yang melambung hingga 100 dolar AS per barel menjadi indikator yang jelas bahwa dampak global sudah mulai terasa di dalam negeri. Oleh karena itu, Akbar menekankan pentingnya antisipasi dan adaptasi. Pengusaha harus proaktif mencari solusi alternatif, meningkatkan efisiensi, dan berinovasi untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Dalam konteks ini, peran pemerintah sangat vital dalam memberikan dukungan dan insentif bagi pengusaha untuk melakukan transformasi bisnis. Kebijakan yang mempermudah akses permodalan, pelatihan keterampilan, dan pengembangan teknologi sangat dibutuhkan untuk membantu pengusaha beradaptasi dengan perubahan pasar global. Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat diplomasi ekonomi untuk membuka peluang pasar baru dan menjalin kerja sama dengan negara-negara lain.
Akbar juga menceritakan pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo memberikan arahan yang jelas agar dunia usaha tetap solid dan bersatu dalam menghadapi ketidakpastian global. Arahan ini, menurut Akbar, menjadi pemicu semangat bagi para pengusaha untuk terus berkontribusi dalam pembangunan ekonomi bangsa.
"Kita pelaku usaha, Pemerintah, dan seluruh stakeholders harus bersatu, harus solid menghadapi situasi global ini," tegas Akbar. Pesan ini merupakan seruan untuk membangun ekosistem bisnis yang kolaboratif dan inklusif, di mana setiap elemen memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Selain memperkuat solidaritas dan dukungan terhadap pemerintah, Hipmi juga terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing pengusaha muda Indonesia. Melalui berbagai program pelatihan, mentoring, dan networking, Hipmi berusaha untuk membekali pengusaha muda dengan pengetahuan, keterampilan, dan jaringan yang dibutuhkan untuk sukses di era globalisasi.
Ketua Panitia acara buka bersama (bukber) Hipmi, Sunny Boy Hutabarat, menjelaskan bahwa acara tersebut merupakan salah satu upaya untuk mempererat silaturahmi antar pengusaha muda. Bukber dengan tema "Harmoni Pengusaha Muda: Menyatukan Visi, Menebar Keakraban di Bulan Suci" ini menjadi wadah bagi para pengusaha muda untuk saling berbagi pengalaman, bertukar ide, dan membangun jaringan.