Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir, memicu kekhawatiran di pasar keuangan. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memberikan penjelasan terkait fenomena ini, menyoroti dua faktor utama yang menjadi penyebab pelemahan mata uang Garuda tersebut.

Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global menjadi faktor dominan yang membebani rupiah. Kondisi global yang penuh dengan gejolak dan ketidakpastian membuat investor cenderung mencari aset yang lebih aman (safe haven), seperti dolar AS. Akibatnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat, yang pada gilirannya menekan nilai tukar rupiah.

Selain ketidakpastian global, Perry juga menyoroti peran korporasi domestik dalam pelemahan rupiah. Seiring dengan meningkatnya aktivitas ekonomi, perusahaan-perusahaan di Indonesia membutuhkan lebih banyak valuta asing (valas) untuk berbagai keperluan, seperti impor bahan baku, pembayaran utang luar negeri, dan investasi di luar negeri. Lonjakan permintaan valas ini juga berkontribusi pada tekanan terhadap rupiah.

"Perkembangan nilai tukar terutama dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global di tengah meningkatnya permintaan valas korporasi domestik sejalan dengan kenaikan kegiatan ekonomi," ujar Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI secara virtual.

Pada tanggal 18 Februari 2026, BI mencatat nilai tukar rupiah berada di level Rp 16.880 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sekitar 0,56% dibandingkan dengan posisi akhir Januari 2026. Perry mengakui bahwa nilai tukar rupiah saat ini lebih rendah dari nilai fundamental yang seharusnya.

Meskipun demikian, Perry meyakinkan bahwa BI terus memantau perkembangan pasar valas dan berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. BI akan terus melakukan intervensi di pasar valas jika diperlukan, serta berkoordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Rupiah Undervalued? BI Optimis dengan Fundamental Ekonomi Indonesia

Perry Warjiyo menegaskan bahwa BI memandang nilai tukar rupiah saat ini undervalued atau dinilai rendah dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Beberapa indikator menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih dalam kondisi yang baik, seperti inflasi yang terkendali, pertumbuhan ekonomi yang stabil, dan cadangan devisa yang memadai.

"BI memandang nilai tukar rupiah telah dinilai rendah atau undervalued dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, termasuk konsistensi inflasi yang terjaga dalam sasaran 2,5 plus minus 1%," kata Perry.