Jakarta – Rupiah mengalami tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamis (19 Februari 2026). Penguatan mata uang Paman Sam ini bahkan nyaris menembus level psikologis Rp 17.000 pada sesi perdagangan pagi, memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar dan pengamat ekonomi.
Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa dolar AS menguat sebesar 0,28% dan mencapai level Rp 16.930. Angka ini menandai kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya pada hari Rabu (18 Februari), di mana dolar AS berada di level Rp 16.884. Pergerakan yang agresif ini mengindikasikan adanya sentimen negatif yang membebani rupiah dan mendorong permintaan terhadap dolar AS.
Pada pembukaan perdagangan hari ini, tekanan terhadap rupiah bahkan lebih terasa, dengan dolar AS sempat melonjak ke level Rp 16.947. Meskipun kemudian sedikit terkoreksi, pergerakan mata uang Paman Sam ini tetap berada dalam rentang yang tinggi, yaitu antara Rp 16.916 hingga Rp 16.947. Volatilitas ini mencerminkan ketidakpastian yang sedang melanda pasar keuangan Indonesia.
Penguatan dolar AS terhadap rupiah ini sejalan dengan tren penguatan mata uang tersebut terhadap mayoritas mata uang asing lainnya. Terhadap euro (EUR), misalnya, dolar AS menguat sebesar 0,08%. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan dolar AS bukan hanya disebabkan oleh faktor internal di Indonesia, tetapi juga oleh faktor eksternal yang mempengaruhi pasar global.
Selain terhadap euro, dolar AS juga mencatatkan penguatan terhadap mata uang Jepang (JPY) sebesar 0,10%. Penguatan ini menunjukkan bahwa dolar AS sedang diuntungkan oleh sentimen risk-off di pasar global, di mana investor cenderung mencari aset safe haven seperti dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi.
Mata uang Australia (AUD) juga tidak luput dari tekanan dolar AS, dengan pelemahan sebesar 0,31%. Hal ini mengindikasikan bahwa sentimen terhadap mata uang-mata uang komoditas seperti AUD juga sedang tertekan, seiring dengan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global.
Namun, tidak semua mata uang mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Mata uang Kanada (CAD) justru tercatat menguat tipis sebesar 0,04% terhadap dolar AS. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor-faktor spesifik yang mempengaruhi ekonomi Kanada, seperti harga minyak yang stabil.
Selain CAD, mata uang Swiss (CHF) juga mencatatkan penguatan sebesar 0,10% terhadap dolar AS. CHF dikenal sebagai mata uang safe haven, sehingga penguatannya mungkin disebabkan oleh meningkatnya permintaan terhadap aset-aset yang dianggap aman di tengah ketidakpastian pasar.
Poundsterling Inggris (GBP) juga menunjukkan sedikit resistensi terhadap penguatan dolar AS, dengan hanya melemah sebesar 0,01%. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Inggris mungkin memiliki fundamental yang relatif kuat, sehingga mampu menahan tekanan dari penguatan dolar AS.