Jakarta – Pemerintah Indonesia tengah gencar melakukan negosiasi dengan otoritas Arab Saudi, khususnya Saudi Food and Drug Authority (SFDA), untuk kembali membuka keran ekspor ikan patin. Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk memenuhi kebutuhan konsumsi protein jemaah haji dan umrah asal Indonesia yang setiap tahunnya membludak. Setelah sempat terhenti akibat pandemi COVID-19, peluang untuk kembali memasok ikan patin ke pasar Arab Saudi kini kembali terbuka lebar, menjanjikan potensi ekonomi yang signifikan bagi sektor perikanan budidaya Indonesia.
Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ishartini, mengungkapkan bahwa proses negosiasi dengan SFDA terus berjalan intensif. Meskipun belum mendapatkan persetujuan final, pemerintah optimis bahwa produk ikan patin Indonesia akan segera mendapatkan lampu hijau untuk memasuki pasar Arab Saudi.
"Kita saat ini sedang bernegosiasi dengan teman-teman dari Saudi Arabia, SFDA Saudi Arabia, untuk bisa memasukkan ikan produk budi daya. Memang kita belum mendapatkan approval, namun demikian ini sudah di dalam proses," ujarnya dalam konferensi pers di KKP, Jakarta Pusat, Kamis (19/2/2025).
Pemerintah Indonesia, melalui KKP, telah berupaya memenuhi semua persyaratan yang diajukan oleh SFDA. Komunikasi aktif dan intensif terus dilakukan dengan otoritas kompeten di Arab Saudi. Dengan terbentuknya tim terpadu untuk ekosistem haji dan umrah, Ishartini berharap produk perikanan budidaya Indonesia, khususnya ikan patin, dapat segera meramaikan pasar Arab Saudi.
Plt Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Mahmud, menambahkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki pengalaman sukses dalam mengekspor ikan patin ke Arab Saudi sebelum pandemi COVID-19 melanda. Pada tahun 2019, volume ekspor ikan patin mencapai sekitar 300 ton, dalam bentuk fillet dan cut portion. Keberhasilan ini menjadi modal penting untuk meyakinkan SFDA bahwa Indonesia mampu memenuhi standar kualitas dan keamanan pangan yang ditetapkan.
"Kita itu pernah ekspor patin ke Arab Saudi tahun 2019. Sebelum COVID-19, kita itu pernah ekspor. Untuk haji, itu sekitar hampir 300 ton. Kita ekspor patin dalam bentuk fillet dan cut portion. Kita akan mengawal lagi untuk bisa ekspor lagi. Karena untuk komoditas lain, seperti beras, kita sudah ekspor, dan nanti proteinnya juga dari Indonesia. Jadi, mudah-mudahan ini bisa segera terwujud untuk bisa ekspor kembali untuk tujuan Arab Saudi untuk kebutuhan haji dan umrah," jelas Mahmud.
Potensi Pasar yang Menggiurkan dan Dampak Ekonomi Bagi Indonesia
Rencana ekspor ikan patin ke Arab Saudi bukan sekadar ambisi semata, melainkan didasari oleh potensi pasar yang sangat besar dan menjanjikan. Setiap tahun, jutaan umat Muslim dari seluruh dunia, termasuk ratusan ribu jemaah asal Indonesia, berkunjung ke Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Kebutuhan akan pangan, khususnya sumber protein hewani, menjadi sangat tinggi selama musim haji dan umrah. Ikan patin, dengan kandungan gizi yang baik dan harga yang relatif terjangkau, menjadi pilihan yang ideal untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Jika ekspor ikan patin ke Arab Saudi dapat kembali direalisasikan, dampak positifnya akan sangat signifikan bagi perekonomian Indonesia, khususnya bagi para pembudidaya ikan patin. Peningkatan permintaan akan mendorong peningkatan produksi, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan pendapatan para petani ikan. Selain itu, ekspor ikan patin juga akan meningkatkan devisa negara dan memperkuat citra Indonesia sebagai negara pengekspor produk perikanan yang berkualitas.