Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan optimisme tinggi terhadap reformasi pasar modal Indonesia. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyatakan bahwa pihaknya akan menggelar pertemuan lanjutan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada minggu ini. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari upaya transparansi yang telah dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dalam menjawab permintaan MSCI terkait peningkatan transparansi pasar modal Indonesia.
Langkah krusial yang telah diambil oleh BEI dan KSEI adalah membuka data kepemilikan saham di atas 1%. Langkah ini dipandang sebagai kemajuan signifikan dalam memenuhi ekspektasi MSCI terkait keterbukaan informasi. Hasan Fawzi menjelaskan bahwa pertemuan mendatang dengan MSCI diharapkan dapat menghasilkan penilaian komprehensif terhadap data yang telah disajikan oleh SRO pasar modal Indonesia.
"MSCI pertemuan berikutnya di minggu ini. Nah, kemarin kita sudah melaporkan dan menyediakan data yang progres terakhir adalah yang kepemilikan saham di atas 1%. Ini yang selanjutnya kita harapkan akan dilakukan olahan datanya oleh mereka untuk menilai apakah apa yang kami sajikan sudah memenuhi ekspektasinya atau apa yang masih ditambahkan," ujar Hasan Fawzi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (12/3/2026).
Pernyataan ini mengindikasikan komitmen OJK untuk terus berdialog dan berkolaborasi dengan MSCI dalam meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia di mata investor global. Keterbukaan informasi merupakan salah satu kunci utama untuk menarik investasi asing dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Hasan Fawzi juga menekankan bahwa komunikasi antara OJK dan MSCI berjalan secara intensif dan konstruktif. MSCI secara aktif melakukan analisis terhadap setiap perkembangan dan progres yang dilaporkan oleh SRO pasar modal terkait pengungkapan rincian keterbukaan informasi. Hal ini menunjukkan keseriusan MSCI dalam melakukan evaluasi yang mendalam terhadap pasar modal Indonesia.
"Sejauh ini sangat baik, konstruktif, kemudian interaksinya sangat intens di tim teknis, dan kemudian dari analis mereka juga terus melakukan pengolahan data setiap kali ada progres," jelasnya.
Target OJK adalah merampungkan reformasi pasar modal pada bulan ini. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif dan menarik lebih banyak investor ke pasar modal Indonesia. MSCI dijadwalkan akan melakukan evaluasi lanjutan terhadap pasar modal Indonesia pada bulan Mei mendatang. Evaluasi ini akan menjadi penentu apakah pasar modal Indonesia akan mengalami peningkatan peringkat atau tetap berada pada posisinya saat ini.
"Sejauh ini persepsinya sangat baik. Jadi kita harapkan, kan ini baru bulan Maret ya, mereka baru akan melakukan evaluasi lagi di Mei, tapi datanya sudah kita sediakan sejak awal. Nah, jadi kalau misalnya masih ada yang perlu kita tambahkan, setidaknya masih punya cukup banyak waktu," pungkas Hasan Fawzi.
Pernyataan ini menunjukkan optimisme OJK bahwa reformasi pasar modal yang sedang berjalan akan memberikan dampak positif dan memenuhi ekspektasi MSCI. Dengan tersedianya data yang lengkap dan transparan sejak awal, OJK berharap MSCI dapat memberikan penilaian yang positif terhadap pasar modal Indonesia.