KABARNUSANTARA.ID - Masjid Agung Garut menempati posisi penting sebagai salah satu penanda visual utama di kota yang kerap dijuluki "Swiss van Java" ini. Kehadirannya telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap sejarah dan spiritualitas masyarakat setempat.

Sebagai bangunan bersejarah, Masjid Agung Garut telah melalui berbagai fase perkembangan signifikan. Dalam rentang waktu lebih dari dua abad, masjid ikonik ini dilaporkan telah mengalami beberapa kali proses renovasi besar.

Secara geografis, Masjid Agung Garut menempati area yang cukup luas. Bangunan suci ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 4.000 meter persegi.

Lokasi strategis masjid ini berada di jantung kota, tepatnya di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut. Keberadaannya bersisian langsung dengan kompleks penting Pendopo Garut.

Penelusuran catatan sejarah menunjukkan titik awal berdirinya masjid agung ini. Masjid ini diyakini didirikan pada tahun 1813, menandai tonggak penting bagi perkembangan wilayah tersebut.

Tanggal spesifik pendirian Masjid Agung Garut jatuh pada 15 September 1813. Momen ini bertepatan dengan pelaksanaan peletakan batu pertama untuk berbagai sarana dan prasarana pendukung ibu kota baru Kabupaten Garut.

"Masjid Agung Garut beberapa kali mengalami renovasi sejak didirikan lebih dari dua abad lalu," sebagaimana disampaikan oleh pihak pengelola dilansir dari sumber berita terkait.

"Masjid Agung Garut berdiri di atas lahan sekitar 4 ribu meter persegi di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut. Lokasinya berada di kompleks Pendopo Garut," ungkap seorang sejarawan lokal dilansir dari catatan sejarah.

"Berdasarkan catatan sejarah, Masjid Agung Garut diyakini didirikan pada tahun 1813, tepatnya pada 15 September 1813, bersamaan dengan peletakan batu pertama sarana dan prasarana Garut, sebagai ibu kota baru Kabupaten Garut yang baru," jelas narasumber yang memahami arsip pendirian kota.