Jakarta – Pemerintah, melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), terus berupaya memastikan kesiapan infrastruktur jalan di seluruh pelosok negeri dalam menyambut lonjakan mobilitas masyarakat saat arus mudik dan balik libur Lebaran 2026. Komitmen ini diwujudkan melalui serangkaian program pemeliharaan, perbaikan, dan peningkatan kualitas jalan nasional yang telah diintensifkan sejak awal tahun. Dengan fokus utama pada keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran perjalanan, Kementerian PU optimis bahwa infrastruktur jalan yang ada akan mampu menampung volume kendaraan yang meningkat signifikan selama periode Lebaran.

Menteri PU, Dody Hanggodo, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI pada hari Rabu, 11 Maret 2026, memaparkan secara detail progres dan strategi yang telah dijalankan untuk memastikan kesiapan infrastruktur jalan. Ia menjelaskan bahwa saat ini, Indonesia memiliki jaringan jalan nasional non-tol sepanjang 47.603 kilometer (km), yang merupakan tulang punggung transportasi darat yang menghubungkan berbagai wilayah strategis di seluruh nusantara. Tingkat kemantapan jalan nasional secara keseluruhan telah mencapai 93,50%, menunjukkan kondisi jalan yang relatif baik dan siap dilalui.

Meskipun demikian, Menteri Dody mengakui bahwa masih terdapat disparitas dalam tingkat kemantapan jalan di berbagai pulau. Pulau Sulawesi mencatatkan tingkat kemantapan tertinggi, mencapai 97,15%, yang mencerminkan investasi dan pemeliharaan yang berkelanjutan di wilayah tersebut. Sementara itu, Pulau Papua mencatatkan tingkat kemantapan terendah, yaitu 85,37%, yang mengindikasikan tantangan geografis dan logistik yang lebih kompleks dalam upaya peningkatan kualitas infrastruktur. Kementerian PU menyadari sepenuhnya perbedaan ini dan berkomitmen untuk terus meningkatkan kondisi jalan di Papua melalui program-program pembangunan yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah.

"Untuk menjaga kelancaran arus mudik dan arus balik Lebaran, Kementerian PU melakukan berbagai pekerjaan konservasi di jalan nasional," tegas Menteri Dody. Konservasi jalan merupakan upaya berkelanjutan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas jalan melalui serangkaian tindakan preventif dan korektif. Pekerjaan konservasi meliputi penambalan lubang, perbaikan bahu jalan, pembersihan drainase, dan pemotongan rumput di sepanjang jalan. Tujuan utama dari konservasi jalan adalah untuk mencegah kerusakan yang lebih parah, memperpanjang umur jalan, dan memastikan keselamatan pengguna jalan.

Salah satu fokus utama dalam persiapan menyambut Lebaran adalah penanganan lubang di jalan. Kementerian PU telah mengidentifikasi sebanyak 89.468 titik lubang di berbagai ruas jalan nasional. Lubang merupakan salah satu penyebab utama kecelakaan lalu lintas, terutama bagi pengendara sepeda motor. Oleh karena itu, penanganan lubang menjadi prioritas utama dalam upaya meningkatkan keselamatan jalan.

"Pada jaringan jalan nasional saat ini teridentifikasi kurang lebih total 89.468 titik lubang. Dari jumlah tersebut Alhamdulillah 85.466 titik lubang atau sekitar 95,52% telah ditangani," jelas Menteri Dody. Progres yang signifikan dalam penanganan lubang ini menunjukkan komitmen dan kerja keras Kementerian PU dalam memastikan kondisi jalan yang aman dan nyaman bagi para pemudik. Meskipun demikian, Kementerian PU tidak berpuas diri dan akan terus melakukan pemantauan dan perbaikan terhadap sisa lubang yang belum tertangani.

Selain penanganan lubang, Kementerian PU juga telah melakukan pembersihan bahu jalan, pemotongan rumput, serta normalisasi jaringan drainase. Bahu jalan yang bersih dan terawat akan memberikan ruang bagi kendaraan untuk berhenti dalam keadaan darurat, sementara rumput yang dipangkas akan meningkatkan jarak pandang pengemudi. Normalisasi jaringan drainase sangat penting untuk mencegah genangan air di jalan saat musim hujan, yang dapat membahayakan pengguna jalan dan merusak struktur jalan.

"Kegiatan pemangkasan rumput telah dilakukan pada kurang lebih km jalan, dari total 43.500 km jalan atau sekitar kurang lebih 80,9% dari target pemeliharaan," papar Menteri Dody. Angka ini menunjukkan bahwa Kementerian PU telah berupaya secara maksimal untuk memastikan kondisi jalan yang optimal selama periode mudik. Pembersihan bahu jalan dan normalisasi drainase juga telah dilakukan secara intensif di berbagai ruas jalan nasional.

Menurut Menteri Dody, proses ‘tambal’ jalan hingga pangkas rumput ini sudah dilakukan sejak Januari 2026. Hal ini menunjukkan keseriusan Kementerian PU dalam mempersiapkan infrastruktur jalan jauh-jauh hari sebelum dimulainya arus mudik. Sementara itu, proses revitalisasi jalan yang lebih besar akan dihentikan sementara mulai tanggal 11 Maret 2026 untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas. Penghentian sementara pekerjaan revitalisasi jalan ini dilakukan untuk meminimalkan potensi kemacetan dan gangguan lalu lintas selama periode mudik.