Jakarta – Pasar saham Indonesia menunjukkan sinyal positif di awal perdagangan hari Kamis, 19 Februari 2026, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan penguatan yang signifikan. Momentum ini memberikan angin segar bagi para investor, setelah sebelumnya pasar sempat mengalami fluktuasi yang cukup tinggi. Kenaikan IHSG ini mengindikasikan adanya peningkatan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, serta kinerja emiten-emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada pembukaan perdagangan, IHSG langsung melesat ke zona hijau, diperdagangkan pada level 8.340,16, atau naik sebesar 0,36% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya. Bahkan, pada awal sesi perdagangan, indeks sempat menyentuh titik tertinggi di level 8.364,44, menunjukkan antusiasme yang tinggi dari para pelaku pasar.

Data perdagangan dari RTI Business mencatat, volume perdagangan pada awal sesi mencapai 2,05 miliar saham, dengan nilai transaksi yang cukup besar, yakni Rp 1,1 triliun. Frekuensi perdagangan saham juga terpantau aktif, mencapai 149.720 kali. Angka-angka ini mencerminkan likuiditas pasar yang baik, serta partisipasi aktif dari berbagai kalangan investor, baik investor ritel maupun institusi.

Kinerja positif IHSG ini didukung oleh pergerakan mayoritas saham yang diperdagangkan di BEI. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 295 saham tercatat mengalami kenaikan harga, sementara 154 saham mengalami penurunan, dan 218 saham stagnan. Dominasi saham-saham yang menguat ini memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan IHSG secara keseluruhan.

Salah satu faktor penting yang turut mendorong penguatan IHSG adalah adanya aksi beli bersih (net foreign buy) dari investor asing. Pada awal perdagangan, tercatat net foreign buy sebesar Rp 1,44 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa investor asing memiliki keyakinan terhadap potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta daya tarik investasi di pasar modal Indonesia. Namun, perlu dicatat bahwa secara akumulatif sepanjang tahun 2026, IHSG masih mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 15,04 triliun. Artinya, meskipun terdapat aksi beli bersih pada hari ini, investor asing secara keseluruhan masih cenderung mengurangi kepemilikan saham di pasar Indonesia.

Faktor-faktor Pendorong Optimisme Pasar

Terdapat beberapa faktor yang diyakini menjadi pendorong optimisme pasar dan berkontribusi terhadap penguatan IHSG. Pertama, adalah ekspektasi terhadap pemulihan ekonomi global. Setelah melewati masa-masa sulit akibat pandemi COVID-19, ekonomi global diperkirakan akan mengalami pemulihan secara bertahap. Pemulihan ekonomi global ini akan berdampak positif terhadap kinerja ekspor Indonesia, serta menarik investasi asing ke dalam negeri.

Kedua, adalah kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, seperti pemberian insentif fiskal, deregulasi, serta pembangunan infrastruktur. Kebijakan-kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing Indonesia, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Ketiga, adalah kinerja emiten yang positif. Sejumlah emiten yang terdaftar di BEI telah melaporkan kinerja keuangan yang positif pada tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut mampu beradaptasi dengan tantangan ekonomi, serta menghasilkan keuntungan yang baik bagi para pemegang saham. Kinerja emiten yang positif ini tentu saja menjadi daya tarik bagi para investor untuk membeli saham-saham tersebut.