Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pemanfaatan gas bumi di dalam negeri. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan mempercepat pembangunan infrastruktur Pipa Transmisi Gas Bumi ruas Dumai-Sei Mangkei (Dusem), sebuah proyek yang diharapkan dapat menjadi katalisator bagi pertumbuhan industri dan penyediaan energi bersih di wilayah Sumatera. Proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur, melainkan sebuah langkah konkret dalam mewujudkan diversifikasi energi dan meningkatkan daya saing industri nasional.
Pembangunan jaringan pipa gas Dusem, yang telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), memiliki peran krusial dalam mengintegrasikan infrastruktur gas bumi di wilayah Sumatera Utara hingga Riau. Integrasi ini akan membuka akses yang lebih luas bagi industri, komersial, dan masyarakat untuk menikmati manfaat gas bumi sebagai sumber energi yang lebih bersih dan efisien.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyampaikan optimismenya saat meresmikan pengiriman perdana pipa proyek pembangunan pipa transmisi gas Dusem di pabrik PT Krakatau Pipe Industries (KPI), Cilegon, Banten. Acara ini menjadi simbol dimulainya babak baru dalam upaya pemenuhan kebutuhan energi nasional.
"Pembangunan pipa transmisi gas Dusem merupakan salah satu perwujudan dari kebijakan Pemerintah dalam program diversifikasi energi dan percepatan pemanfaatan gas bumi di dalam negeri," tegas Laode. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan beralih ke sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Lebih lanjut, Laode menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya membangun infrastruktur pipa transmisi gas bumi untuk merealisasikan kemudahan akses gas dengan menjangkau beberapa wilayah di Indonesia. Pembangunan pipa transmisi gas bumi ini bertujuan memberikan akses energi kepada sektor industri, komersial, dan masyarakat. Akses energi yang mudah dan terjangkau akan menjadi daya tarik investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah yang dilalui oleh pipa gas.
Proyek Dusem, dengan nilai investasi mencapai Rp6,5 Triliun, dirancang untuk memiliki volume desain sebesar 109,2 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day). Kapasitas ini menunjukkan potensi besar dalam memenuhi kebutuhan gas bumi bagi berbagai sektor industri dan komersial di wilayah Sumatera. Proyek yang dimulai sejak Desember 2025 dan ditargetkan rampung pada Desember 2027 ini diharapkan dapat mengintegrasikan jaringan pipa transmisi gas di sepanjang Sumatera, guna mendukung hilirisasi industri dan penyediaan energi bersih bagi masyarakat. Hilirisasi industri, yaitu pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah, akan menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan daerah.
Laode juga menyampaikan apresiasinya kepada tim yang terlibat dalam proyek ini. "Kami tentu menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran baik dari Krakatau Steel serta Krakatau Pipe Industries atas langkah-langkah cepat dan terukur, yang menyebabkan apa yang kita laksanakan masih berada dalam timeline. Lalu kami sampaikan terima kasih juga kepada Kerja Sama Operasi (KSO) 1 dan KSO 2 yang juga telah melakukan kerja sama yang sangat kompak dengan Krakatau Steel dan Krakatau Pipe dan tim kami sehingga proses dari pipa ini bisa berjalan, saya lihat timeline-nya masih sangat sesuai," ujarnya. Apresiasi ini menunjukkan pentingnya sinergi dan kolaborasi antara berbagai pihak dalam menyukseskan proyek strategis nasional.
Proyek jaringan pipa transmisi gas Dusem sepanjang total kurang lebih 541,8 km dibagi menjadi dua segmen utama. Segmen 1, yaitu SKG Belawan sampai dengan Stasiun Labuhan Batu sepanjang 279,8 km, dikerjakan oleh kontraktor pelaksana KSO PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT Nindya Karya, dengan nilai kontrak Rp 3,6 triliun. Segmen 2, yaitu Stasiun Labuhan Batu sampai dengan Fasilitas Duri sepanjang 262 km, dikerjakan oleh kontraktor pelaksana KSO PT Remaja Bangun Kencana Kontraktor, PT Brantas Abipraya (Persero), PT Sumber Bangun Sentosa, dan PT Singgar Mulia dengan nilai kontrak Rp 2,8 triliun.
Berdasarkan data laporan proyek hingga minggu ke-8, pelaksanaan pekerjaan menunjukkan capaian yang positif dan berada di atas target yang ditetapkan. Realisasi pada Engineering-Procurement-Construction (EPC) Segmen 1 telah mencapai 12,447% dari target sebesar 7,638%, sementara EPC Segmen 2 mencapai 12,061% dari rencana awal sebesar 10,295%. Capaian ini menunjukkan bahwa proyek berjalan sesuai rencana dan bahkan lebih cepat dari yang diharapkan.