Jakarta – Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, di mana kekayaan seringkali menjadi tolok ukur kesuksesan dan kebahagiaan, kisah Abdurrahman bin Auf menawarkan perspektif yang berbeda dan menggugah. Beliau, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal kaya raya, justru diliputi kegelisahan karena hartanya yang melimpah. Kegelisahannya bukan karena takut kemiskinan, melainkan kekhawatiran bahwa kekayaannya akan menghambatnya memasuki surga lebih awal. Kisah hidupnya menjadi cermin bagi kita semua tentang makna sejati kekayaan, kedermawanan, dan prioritas dalam hidup.
Abdurrahman bin Auf, yang lahir dari pasangan Shafiyah dan Auf bin Abdu Auf bin Abdul Harits bin Zahrah, tumbuh menjadi sosok yang cerdas dan memiliki jiwa bisnis yang kuat. Sebelum memeluk Islam, ia dikenal dengan nama Abdu Amr. Setelah menjadi bagian dari umat Islam, Rasulullah SAW mengganti namanya menjadi Abdurrahman, yang berarti "hamba Allah Yang Maha Pengasih". Nama ini seolah menjadi doa yang terwujud dalam kehidupannya, di mana ia dikenal sebagai sosok yang penyayang, dermawan, dan selalu berusaha menyenangkan Allah SWT.
Kisah Abdurrahman bin Auf bukan sekadar kisah tentang seorang saudagar kaya. Lebih dari itu, ini adalah kisah tentang seorang Muslim yang berusaha memaknai kekayaan dengan benar. Ia tidak terlena dengan gemerlap duniawi, melainkan menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membantu sesama. Kekayaannya tidak membuatnya sombong atau kikir, justru membuatnya semakin rendah hati dan dermawan.
Kegelisahan Abdurrahman bin Auf berawal dari sebuah hadits yang ia dengar dari Rasulullah SAW. Dalam hadits tersebut, Rasulullah SAW bersabda bahwa Abdurrahman bin Auf akan masuk surga paling terakhir karena kekayaannya yang melimpah, yang menyebabkan hisabnya menjadi lebih lama. Mendengar hal ini, Abdurrahman bin Auf merasa sangat sedih. Ia tidak ingin menjadi orang terakhir yang memasuki surga hanya karena hartanya. Ia pun mulai berpikir keras tentang bagaimana caranya agar ia bisa "mengurangi" kekayaannya dan mempercepat perjalanannya menuju surga.
Upaya Abdurrahman bin Auf untuk "jatuh miskin" dilakukan dengan cara yang luar biasa. Ia tidak menghambur-hamburkan hartanya untuk kesenangan duniawi, melainkan menyedekahkannya dengan jumlah yang sangat besar. Pada masa Nabi Muhammad SAW, ia pernah menyedekahkan separuh hartanya untuk kepentingan agama dan umat. Setelah itu, ia kembali bersedekah sebanyak 40.000 dinar, jumlah yang sangat fantastis pada masa itu. Sebagian besar hartanya diperoleh dari hasil perdagangan, yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang pengusaha yang sukses dan jujur.
Kedermawanan Abdurrahman bin Auf tidak hanya terbatas pada memberikan uang. Ia juga memberikan solusi bagi masalah ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat Madinah. Suatu hari, ia bertemu dengan Saad, seorang sahabat Anshar yang dikenal kaya raya. Saad menawarkan sebagian hartanya kepada Abdurrahman bin Auf, namun tawaran tersebut ditolak dengan halus. Abdurrahman bin Auf justru bertanya tentang lokasi pasar di Madinah.
Setelah mengetahui bahwa harga sewa pasar di Madinah sangat mahal, Abdurrahman bin Auf melihat sebuah peluang untuk membantu para pedagang kecil yang kesulitan. Ia membeli sebidang tanah dan menjadikannya sebagai kavling-kavling pasar. Kavling-kavling tersebut diberikan kepada para pedagang Muslim secara gratis, tanpa dipungut biaya sewa. Ia menerapkan sistem bagi hasil yang adil, sehingga tidak memberatkan para pedagang yang masih merintis usaha. Inisiatif ini tidak hanya membantu para pedagang, tetapi juga meningkatkan perekonomian Madinah secara keseluruhan.
Abdurrahman bin Auf juga dikenal sebagai sosok yang sangat peduli terhadap kebutuhan logistik para pejuang di jalan Allah. Diriwayatkan bahwa ia pernah menyumbangkan 200 uqiyah emas – satu uqiyah setara dengan kurang lebih 31 gram – untuk memenuhi kebutuhan logistik selama Perang Tabuk. Saat Rasulullah SAW menyerukan infak, ia tidak pernah ragu untuk mengeluarkan hartanya. Ia selalu menjadi yang terdepan dalam memberikan kontribusi terbaiknya untuk membela agama Allah.
Pada saat Perang Badar, Abdurrahman bin Auf memberikan santunan sebesar 400 dinar kepada masing-masing veteran. Ia juga tercatat menyumbangkan 40.000 dinar, 500 ekor kuda, dan 1.500 ekor unta untuk para pejuang. Sumbangan-sumbangan ini menunjukkan betapa besar perhatiannya terhadap kesejahteraan para pejuang dan betapa ia menghargai pengorbanan mereka dalam membela agama Allah.