Dinasti Trump Merambah Industri Drone: Investasi Putra Mahkota di Tengah Gejolak Geopolitik Global
Jakarta – Di tengah eskalasi konflik geopolitik yang semakin membara, terutama di kawasan Timur Tengah, nama keluarga Trump kembali mencuat dalam pusaran bisnis yang kontroversial. Kali ini, sorotan tertuju pada kedua putra mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Eric Trump dan Donald Trump Jr., yang dilaporkan menanamkan investasi signifikan dalam perusahaan rintisan (startup) yang bergerak di bidang pembuatan drone otonom. Investasi ini, yang berpotensi mengantarkan perusahaan tersebut menjadi pemasok utama kebutuhan militer AS, memicu pertanyaan etis dan konflik kepentingan mengingat latar belakang keluarga Trump dan situasi global yang serba tidak pasti.
Perusahaan yang menjadi target investasi kedua putra Trump adalah Powerus, sebuah perusahaan yang didirikan pada tahun 2025 oleh Andrew Fox. Powerus dikenal sebagai produsen drone pengangkut beban berat yang mampu membawa muatan industri hingga 675 kilogram. Lebih dari sekadar produsen drone, Powerus juga menawarkan layanan inovatif berupa konversi kapal berawak menjadi kapal yang dioperasikan dari jarak jauh atau bahkan sepenuhnya otonom. Teknologi ini menjanjikan efisiensi dan fleksibilitas yang signifikan dalam berbagai aplikasi, mulai dari logistik hingga pengawasan maritim.
Langkah strategis yang diambil oleh Eric dan Donald Trump Jr. adalah menjadi investor utama dalam rencana penggabungan (merger) antara Powerus dengan perusahaan terbuka (go public) bernama Aureus Greenway Holdings Inc. Merger ini bukan sekadar transaksi bisnis biasa, melainkan sebuah upaya ambisius untuk membawa Powerus melantai di bursa saham melalui mekanisme yang dikenal sebagai Special Purpose Acquisition Company (SPAC). Melalui proses ini, Powerus berharap dapat memperoleh pendanaan yang signifikan untuk memperluas bisnisnya, terutama dengan menargetkan pasar pertahanan AS yang sangat menggiurkan.
Menurut dokumen pengajuan merger yang disampaikan kepada badan pengawas pasar modal AS, SEC, Andrew Fox, pendiri Powerus, diharapkan akan menjabat sebagai kepala eksekutif (CEO) dan ketua perusahaan gabungan hasil merger tersebut. Hal ini menunjukkan kepercayaan yang besar terhadap visi dan kemampuan Fox dalam memimpin Powerus menuju kesuksesan di pasar yang kompetitif.
Sebagai bagian dari rencana merger, Aureus Greenway Holdings Inc. telah menunjuk Dominari Securities untuk membantu mengumpulkan dana segar sebesar US$ 9 juta atau setara dengan Rp 151,8 miliar (dengan kurs Rp 16.867 per dolar AS). Inilah titik krusial yang menghubungkan kedua putra Trump dengan bisnis drone ini. Dominari Securities adalah perusahaan pialang saham yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Eric dan Donald Trump Jr., dengan masing-masing memiliki sekitar 6% saham. Keterlibatan mereka sebagai pemilik saham Dominari Securities memunculkan potensi konflik kepentingan, mengingat peran perusahaan tersebut dalam penggalangan dana untuk merger Powerus.
Investasi kedua putra Trump dalam bisnis drone ini menuai sorotan publik yang tajam, terutama karena dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Perang di Ukraina, konflik Israel-Palestina, dan ketegangan antara AS dan Iran menjadi latar belakang yang mengkhawatirkan. Keterlibatan keluarga Trump dalam bisnis yang berpotensi memasok kebutuhan militer AS memicu pertanyaan tentang motif mereka dan dampaknya terhadap kebijakan luar negeri AS.
Selama masa jabatan Donald Trump sebagai presiden, aktivitas bisnis keluarga Trump memang mengalami ekspansi yang signifikan. Dari bisnis hotel dan lapangan golf yang sudah mapan, mereka merambah ke berbagai sektor lain, termasuk mata uang kripto (cryptocurrency), energi, dan jasa keuangan. Ekspansi bisnis ini tidak jarang menimbulkan kontroversi dan tuduhan penyalahgunaan kekuasaan.
Sebagai contoh, pada akhir tahun lalu, Trump Media & Technology Group (TMTG), perusahaan induk dari platform media sosial Truth Social milik Trump, mengumumkan merger senilai US$ 6 miliar dengan sebuah perusahaan teknologi energi fusi. TMTG bahkan setuju untuk memberikan perusahaan energi fusi tersebut dana sebesar US$ 300 juta dalam bentuk tunai untuk melanjutkan pengembangan teknologi yang masih tergolong baru. Investasi ini menuai kritik karena dianggap terlalu spekulatif dan berisiko tinggi.