Jakarta – Tradisi mudik Lebaran di Indonesia, sebuah fenomena sosial dan budaya yang unik, kembali menjadi sorotan. Pada tahun 2026 ini, tren penggunaan kendaraan pribadi diprediksi akan semakin mendominasi, menimbulkan potensi kepadatan lalu lintas yang signifikan di berbagai ruas jalan di seluruh negeri. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengungkapkan bahwa mayoritas pemudik masih akan mengandalkan mobil dan sepeda motor pribadi sebagai moda transportasi utama mereka untuk pulang kampung.

Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar 52% dari total masyarakat yang berencana mudik menyatakan preferensi mereka untuk menggunakan kendaraan pribadi. Angka ini menegaskan bahwa kendaraan pribadi tetap menjadi pilihan favorit, mengalahkan moda transportasi umum seperti kereta api, bus, atau pesawat terbang.

"Dari hasil survei yang kami lakukan, terlihat jelas bahwa mobil pribadi masih menjadi primadona bagi para pemudik. Diperkirakan sekitar 52% pemudik akan menggunakan mobil pribadi. Setelah itu, disusul oleh sepeda motor," jelas AHY dalam konferensi pers di Gedung Bina Graha, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2026).

Dominasi kendaraan pribadi ini tentu saja menimbulkan implikasi yang signifikan terhadap infrastruktur jalan di Indonesia. Dengan jutaan kendaraan yang bergerak secara bersamaan menuju berbagai daerah di seluruh nusantara, potensi kemacetan dan kepadatan lalu lintas menjadi sangat tinggi.

Lebih lanjut, AHY memaparkan data dari survei Kementerian Perhubungan yang menunjukkan bahwa pada mudik Lebaran tahun ini, diperkirakan sebanyak 143,9 juta masyarakat akan melakukan perjalanan mudik. Dari jumlah tersebut, sekitar 76,24 juta orang memilih menggunakan mobil pribadi, sementara 24,08 juta lainnya akan menggunakan sepeda motor. Angka-angka ini memberikan gambaran yang jelas tentang skala besar pergerakan manusia dan kendaraan selama periode mudik Lebaran.

Melihat tren ini, AHY menekankan bahwa beban utama mudik Lebaran tahun 2026 akan terasa di jalan-jalan raya, baik jalan tol, jalan nasional, maupun jalan arteri di daerah-daerah. Infrastruktur jalan yang ada akan diuji kemampuannya untuk menampung volume kendaraan yang sangat tinggi, dan potensi kemacetan parah menjadi ancaman nyata.

"Bisa dibayangkan, dengan jutaan kendaraan yang bergerak secara bersamaan, beban utama akan berada di jalan-jalan raya. Baik jalan tol yang menjadi urat nadi transportasi antar kota, jalan nasional yang menghubungkan berbagai provinsi, maupun jalan-jalan arteri di daerah yang menjadi akses utama menuju kabupaten atau kota tujuan para pemudik," terang AHY.

Pernyataan AHY ini menggarisbawahi pentingnya persiapan dan pengelolaan lalu lintas yang matang untuk menghadapi lonjakan volume kendaraan selama periode mudik Lebaran. Pemerintah, bekerja sama dengan berbagai pihak terkait, perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk meminimalkan potensi kemacetan dan memastikan kelancaran arus lalu lintas.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain adalah: