KABARNUSANTARA.ID - Pada tahun 1986, sebuah penemuan signifikan terjadi di dasar laut Jepang yang kemudian menarik perhatian para peneliti dan arkeolog kelautan. Momen penemuan ini berawal dari kegiatan eksplorasi rutin yang dilakukan oleh seorang penyelam lokal.

Kihachiro Aratake, nama penyelam tersebut, tengah melakukan ekspedisi di perairan sekitar Pulau Yonaguni. Pulau ini merupakan titik paling barat di kepulauan Jepang dan dikenal memiliki kondisi bawah laut yang unik.

Awalnya, tujuan penyelaman Aratake sangat sederhana dan tidak mengarah pada penemuan bersejarah. Ia hanya bermaksud mencari lokasi baru yang ideal untuk kegiatan rekreasi penyelaman.

Namun, misi pencarian lokasi baru itu berubah drastis ketika ia mencapai kedalaman tertentu di bawah permukaan laut. Penyelaman tersebut secara tak terduga membawanya berhadapan dengan sebuah anomali geologis yang mencolok.

Di kedalaman sekitar 25 meter, Aratake berhasil menemukan sebuah struktur batuan masif yang penampakannya sangat tidak lazim. Struktur tersebut segera menarik perhatian karena tidak tampak seperti formasi alami biasa.

Formasi batuan tersebut memperlihatkan bentuk yang jelas, menyerupai balok persegi panjang dengan sudut-sudut yang tampak tegas dan terdefinisi dengan baik. Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai asal-usulnya.

Lebih jauh lagi, ketika dilihat dari kejauhan, keseluruhan formasi batu tersebut bahkan menampilkan siluet yang sangat mirip dengan piramida bertingkat. Hal ini menambah misteri mengenai keberadaan struktur bawah laut tersebut.

"Pada 1986, seorang penyelam Jepang bernama Kihachiro Aratake menyelam di perairan sekitar Pulau Yonaguni, pulau paling barat di Jepang," demikian keterangan mengenai awal mula penemuan tersebut.

"Saat itu, ia hanya berniat mencari lokasi baru untuk kegiatan penyelaman," ungkap Aratake mengenai niat awalnya sebelum menemukan struktur aneh tersebut.