KABARNUSANTARA.ID - Isu mengenai integritas para jaksa seringkali hanya disoroti dari sisi administratif, seperti disiplin internal dan mekanisme pengawasan kelembagaan. Pendekatan konvensional ini cenderung mengabaikan faktor pembentuk karakter yang lebih fundamental.

Namun, pandangan berbeda ditawarkan oleh mantan Wakil Jaksa Agung (Wakajagung), Setia Untung Arimuladi. Ia mengajukan argumen bahwa fondasi integritas seorang jaksa sejatinya berakar kuat dari lingkungan rumah dan didikan keluarga.

Gagasan sentral ini dituangkan dalam sebuah karya tulisnya yang baru-baru ini dirilis. Buku tersebut secara komprehensif membahas bagaimana lingkungan keluarga memiliki peran vital dalam pembentukan moralitas penegak hukum.

Buku setebal 156 halaman tersebut berjudul Peran Keluarga dalam Pengawasan dan Pembentukan Integritas Jaksa. Karya ini menjadi penegasan bahwa integritas seorang jaksa tidak hanya dibentuk oleh sistem yang ada di institusi penegak hukum semata.

Lebih lanjut, buku tersebut menyoroti bahwa nilai-nilai luhur yang ditanamkan dalam keluarga turut berperan signifikan dalam membangun karakter profesional seorang jaksa. Ini adalah dimensi yang sering terlewatkan dalam diskusi publik.

Selama ini, pembahasan publik mengenai integritas aparat penegak hukum cenderung terpaku pada kerangka kerja kelembagaan. Fokus utamanya meliputi sistem pengawasan internal, aturan disiplin yang berlaku, serta regulasi yang mengikat institusi.

Dalam bukunya, Setia Untung Arimuladi berupaya menggeser fokus analisis tersebut ke perspektif yang lebih mendalam. Ia melihat persoalan integritas dari kacamata yang berbeda dari biasanya.

"Integritas seorang jaksa tidak terbentuk secara tiba-tiba ketika seseorang memasuki institusi penegak hukum," kata Setia Untung Arimuladi mengenai pandangannya.

Beliau juga menekankan pentingnya peran orang terdekat dalam proses pembentukan karakter tersebut. "Integritas seorang jaksa, menurutnya, justru berakar dari rumah dan keluarga," ujar mantan Wakajagung tersebut.