Jakarta – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, baru-baru ini mengungkapkan pengalamannya menjadi sasaran kritik pedas bahkan makian dari netizen di platform media sosial TikTok. Gelombang komentar negatif ini muncul sebagai respons terhadap pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus angka Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Senin, 9 Maret (tahun tidak disebutkan dalam artikel asli, namun konteks mengindikasikan ini terjadi di masa mendatang).

Purbaya menyampaikan keluh kesahnya ini dalam konferensi pers APBN KiTA yang diadakan di kantornya di Jakarta Pusat pada hari Rabu, 11 Maret (tahun tidak disebutkan). Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah yang terjadi bukan semata-mata kesalahan pemerintah, melainkan dipicu oleh sentimen geopolitik global yang kompleks, khususnya eskalasi konflik di Iran.

"Nilai tukar dolar AS terdepresiasi sebesar 0,3% sejak perang. Ini jauh lebih baik dibandingkan mata uang negara-negara di sekeliling kita seperti Malaysia, Thailand dan lain-lain. Jadi, secara relatif, kita masih lumayan," ujar Purbaya.

Pernyataan ini menjadi titik awal penjelasan Purbaya mengenai pentingnya melihat kondisi ekonomi Indonesia dalam konteks global. Ia menekankan bahwa fokus tidak seharusnya hanya tertuju pada level nilai tukar rupiah semata, tetapi juga pada seberapa besar dampaknya dibandingkan dengan negara-negara lain.

"Jadi bukan hanya melihat nilai levelnya saja, tetapi kita lihat berapa dampak ke pelemahannya. Dari situ, kita masih lumayan," tambahnya. Purbaya berusaha meyakinkan publik bahwa meskipun rupiah mengalami pelemahan, performanya relatif lebih baik dibandingkan negara-negara tetangga.

Lebih lanjut, Purbaya mengajak masyarakat untuk bersikap adil dalam menilai kondisi ekonomi Indonesia dengan membandingkannya dengan situasi yang terjadi di negara-negara lain di seluruh dunia. Ia berargumen bahwa perbandingan ini akan memberikan gambaran yang lebih komprehensif dan objektif mengenai ketahanan ekonomi Indonesia.

"Di TikTok, saya dimaki-maki orang, ‘Hey Pak Purbaya, Menteri Keuangan kerjanya apa saja lu, tuh rupiah liatin’. Kalau kita menilai, harus dengan fair apa yang terjadi, dibandingkan juga dengan seluruh negara di dunia seperti apa, kita masih oke. Artinya, kita masih dianggap menjaga kebijakan fiskal dan moneter yang baik dan fondasi ekonomi kita baik," ungkap Purbaya.

Pengakuan Purbaya ini membuka mata publik terhadap tekanan yang dihadapi para pembuat kebijakan di tengah gejolak ekonomi global. Kritik dan makian yang dilontarkan oleh netizen di media sosial mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang fluktuatif. Namun, Purbaya berusaha merespons kritik tersebut dengan memberikan penjelasan yang rasional dan berbasis data.

Purbaya menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih solid dan terus membaik. Hal ini didukung oleh berbagai indikator ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang terkendali, dan neraca perdagangan yang positif. Ia meyakini bahwa dengan fundamental ekonomi yang kuat, Indonesia memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan ekonomi global dan memulihkan stabilitas nilai tukar rupiah.