KABARNUSANTARA.ID - Bulan suci Ramadan seringkali diasosiasikan sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi diri, termasuk memperbaiki kebiasaan makan sehari-hari. Banyak individu yang menargetkan periode ini sebagai kesempatan emas untuk menurunkan bobot tubuh ideal.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan hasil yang kontradiktif bagi sebagian orang. Alih-alih mengalami penurunan berat badan, beberapa individu malah melaporkan adanya pertambahan angka timbangan setelah sebulan penuh berpuasa.
Fenomena kenaikan berat badan pasca-puasa ini memang cukup sering terjadi dan patut mendapat perhatian lebih. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses puasa tidak otomatis menjamin penurunan berat badan jika pola makan tidak dikelola dengan benar.
Fenomena ini menarik perhatian para pakar kesehatan, termasuk ahli gizi profesional. Dalam sebuah kesempatan, pakar memberikan pandangan mengenai alasan ilmiah di balik kenaikan berat badan saat berpuasa.
Dilansir dari detikHealth, Ahli gizi Rita Ramayulis memberikan penjelasan mendalam mengenai hal ini. Beliau mengaitkan fenomena tersebut dengan mekanisme alami yang terjadi dalam tubuh manusia selama periode puasa.
Menurut Rita Ramayulis, kondisi kenaikan berat badan ini dapat terjadi karena adanya proses adaptasi alami yang dilakukan oleh tubuh. Proses adaptasi ini merupakan respons biologis terhadap perubahan drastis dalam jadwal makan.
"Kondisi ini dapat terjadi akibat proses adaptasi alami tubuh," ujar Ahli gizi Rita Ramayulis. Hal ini menggarisbawahi bahwa tubuh memerlukan penyesuaian saat terjadi perubahan pola konsumsi energi.
Oleh karena itu, penting bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa untuk tetap memerhatikan kualitas dan kuantitas asupan makanan saat sahur dan berbuka. Pengaturan porsi menjadi kunci untuk mencapai hasil yang diinginkan.