KABARNUSANTARA.ID - Proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok untuk tahun ini telah ditetapkan pemerintah pada kisaran 4,5% hingga 5%. Angka ini merupakan level terendah sejak tahun 1991 dan menandai penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi pertama sejak tahun 2023.
Target pertumbuhan yang lebih moderat ini diumumkan dalam rangkaian sidang tahunan Two Sessions yang merupakan forum politik penting di Tiongkok. Forum tersebut meliputi pertemuan National People's Congress (NPC) dan Chinese People's Political Consultative Conference (CPPCC).
Dalam sesi pembukaan Kongres Rakyat Nasional di Great Hall of the People, Beijing, pada Kamis (5/3/2026), Perdana Menteri Li Qiang menyampaikan laporan kerja pemerintah yang menguraikan target tersebut.
Penurunan proyeksi pertumbuhan tersebut mengindikasikan bahwa ekonomi Tiongkok tengah menghadapi tekanan yang cukup berat dari berbagai sisi. Tekanan ini terlihat dari sektor properti yang belum pulih, konsumsi rumah tangga yang masih lemah, serta tekanan deflasi yang membayangi.
Data terbaru menunjukkan perlambatan meluas, termasuk berkurangnya penduduk usia kerja dan tantangan yang semakin besar di pasar tenaga kerja. Meskipun demikian, ekspor masih berperan sebagai penopang utama, namun belum cukup untuk mengimbangi pelemahan permintaan domestik.
Sektor properti, yang selama beberapa dekade menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan tempat penyimpanan kekayaan rumah tangga, kini mengalami kemunduran signifikan. Pengetatan regulasi utang pengembang pada 2020 dan dampak lockdown pandemi telah mengungkap kerentanan sektor ini.
"Menurut perkiraan ekonom, harga rumah secara nasional telah jatuh 30% dari puncaknya pada 2021. Kondisi ini menggerus kekayaan rumah tangga," ujar salah seorang ekonom yang dikutip dalam laporan tersebut.
Upaya pemerintah sejak pertengahan 2024 untuk menstabilkan sektor ini melalui penurunan suku bunga KPR dan pelonggaran pembelian rumah belum mampu membalikkan tren penurunan. Pada masa jayanya, sektor properti dan industrinya menyumbang seperempat PDB, namun kini kontribusinya menurun menjadi kurang dari seperlima, dilansir dari Bloomberg.
Kelesuan sektor properti berdampak luas, menyebabkan rumah tangga merasa lebih miskin dan menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang. Hal ini memicu tekanan harga yang mendorong siklus deflasi sejak 2023.