KABARNUSANTARA.ID - Kelangkaan pasokan gas elpiji ukuran 3 kilogram yang disubsidi oleh pemerintah dilaporkan melanda sejumlah wilayah di bagian selatan Kabupaten Cianjur. Kondisi ini menimbulkan kesulitan signifikan bagi masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan energi rumah tangga sehari-hari.

Dampak dari ketersediaan yang minim ini memaksa warga untuk mencari alternatif sumber energi lain untuk keperluan memasak harian mereka. Salah satu solusi terpaksa yang ditempuh adalah kembali memanfaatkan kayu bakar sebagai bahan bakar utama.

Situasi ini menjadi semakin krusial mengingat mendekatnya perayaan besar keagamaan, yaitu Lebaran Idul Fitri tahun 2026. Persiapan hidangan Hari Raya menjadi terhambat akibat minimnya akses terhadap gas elpiji yang selama ini menjadi andalan.

Rusmana, seorang warga yang merasakan langsung dampak kelangkaan ini, memberikan kesaksian mengenai situasi yang terjadi di wilayahnya. Ia merupakan penduduk dari Kecamatan Sindangbarang, salah satu daerah yang terdampak kesulitan ini.

Menurut keterangan yang disampaikan Rusmana, pasokan elpiji bersubsidi ini telah lenyap dari peredaran di tingkat pengecer dan pangkalan resmi. Kejadian ini disebut telah berlangsung selama kurun waktu tiga hari terakhir sebelum ia memberikan keterangan.

"Iya stok di warung hingga pangkalan kosong sejak tiga hari lalu," kata dia, Jumat (20/3/2026).

Pernyataan tersebut menggarisbawahi bahwa masalah ini bukan hanya terjadi pada tingkat pengecer kecil, namun juga menyentuh rantai distribusi hingga tingkat pangkalan resmi. Hal ini menunjukkan adanya kendala serius dalam alur distribusi gas melon tersebut.

Kondisi ini memaksa masyarakat untuk melakukan adaptasi cepat, kembali pada metode memasak yang lebih tradisional seperti menggunakan kayu bakar. Metode ini membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar dibandingkan dengan penggunaan gas elpiji.

Dilansir dari laporan warga, kesulitan mendapatkan gas bersubsidi ini telah menimbulkan kekhawatiran baru bagi para kepala rumah tangga di Cianjur Selatan menjelang hari raya penting. Mereka berharap agar distribusi gas dapat segera dinormalisasi.