Jakarta – Indonesia menegaskan komitmennya untuk melanjutkan rencana pembelian 50 unit pesawat Boeing, sebuah langkah strategis yang merupakan bagian integral dari perjanjian dagang resiprokal yang baru-baru ini diteken oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto dan mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Kesepakatan ini menandai babak baru dalam hubungan ekonomi antara kedua negara, dengan fokus pada peningkatan investasi dan diversifikasi kerjasama perdagangan.
CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani, menyampaikan konfirmasi ini dalam sebuah konferensi pers daring pada hari Jumat, 20 Februari 2026. "Pada kesempatan ini, dari kesepakatan antara Agreement Reciprocal Tariff ini, ada beberapa kegiatan yang memang menyangkut di Kementerian Investasi maupun Danantara. Karena ada beberapa kesepakatan di antaranya adalah pembelian, rencana pembelian 50 pesawat oleh Boeing," ujar Rosan, menekankan signifikansi kesepakatan ini bagi perekonomian Indonesia.
Pembelian pesawat Boeing ini bukan hanya sekadar transaksi komersial, tetapi juga merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperkuat infrastruktur penerbangan Indonesia dan meningkatkan konektivitas global. Dengan armada yang lebih modern dan efisien, Indonesia dapat meningkatkan daya saing sektor pariwisata, memfasilitasi pertumbuhan ekonomi, dan memperkuat posisinya sebagai pusat transportasi udara di kawasan Asia Tenggara.
Lebih lanjut, Rosan menjelaskan bahwa rencana pembelian pesawat ini masih akan dibahas secara mendalam dengan pihak Boeing. Hal ini mencakup pembahasan mengenai total nilai pembelian, jenis pesawat yang akan dibeli, jadwal pembelian, dan waktu pengiriman unit pesawat. "Nantinya kita akan bicarakan dengan Boeing, walaupun sebenarnya sudah ada pembicaraan awal dengan pihak Boeing," tambahnya, mengindikasikan bahwa proses negosiasi sedang berjalan dan diharapkan akan menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan.
Selain pembelian 50 unit pesawat dari Boeing, BPI Danantara juga memegang tanggung jawab dalam pembelian minyak mentah AS senilai US$ 15 miliar atau setara dengan Rp 253,32 triliun per tahun. Diversifikasi sumber energi ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada satu pemasok dan meningkatkan ketahanan energi nasional. "Mungkin itu yang menyangkut dua hal yang memang implementasinya berada di dalam Danantara, ruang lingkup Danantara," pungkas Rosan, menegaskan peran penting BPI Danantara dalam melaksanakan kesepakatan dagang ini.
Rencana pembelian 50 pesawat Boeing ini pertama kali mencuat sebagai bagian dari negosiasi tarif resiprokal antara pemerintah Indonesia dan AS. Rencananya, pembelian ini akan dilakukan oleh maskapai BUMN, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), yang merupakan tulang punggung industri penerbangan nasional. Garuda Indonesia memiliki peran strategis dalam menghubungkan berbagai wilayah di Indonesia dan menyediakan layanan penerbangan internasional yang berkualitas.
Sebelumnya, Garuda Indonesia telah menyiapkan dua skema pendanaan untuk membiayai transaksi bernilai fantastis ini. Langkah ini menunjukkan komitmen Garuda Indonesia untuk merealisasikan rencana pembelian pesawat Boeing dan memperkuat posisinya sebagai maskapai penerbangan terkemuka di kawasan Asia Tenggara.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Garuda Indonesia menjelaskan bahwa sumber dana pertama berasal dari internal perusahaan, seiring dengan program penyehatan keuangan yang tengah dijalankan setelah restrukturisasi. Program restrukturisasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi beban utang, dan memperkuat struktur keuangan perusahaan.
Sumber dana kedua, Garuda Indonesia saat ini juga menjajaki kerja sama dengan sejumlah investor yang berpotensi menjadi pemberi dana untuk pembelian armada baru tersebut. Kemitraan dengan investor strategis akan memberikan Garuda Indonesia akses ke sumber pendanaan yang lebih besar dan membantu perusahaan untuk mempercepat modernisasi armadanya.