Jakarta – Menjelang bulan suci Ramadan, isu stabilitas harga pangan menjadi perhatian utama pemerintah. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengakui bahwa beberapa komoditas pokok masih diperdagangkan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. Pengakuan ini didasarkan pada data yang dihimpun melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP), sebuah platform yang dirancang untuk memantau fluktuasi harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok secara real-time di seluruh Indonesia.
Dua komoditas yang menonjol dalam laporan SP2KP adalah Minyakita, minyak goreng sawit yang dipasarkan dengan harga terjangkau, dan telur ayam. Minyakita tercatat diperdagangkan dengan harga rata-rata Rp 16.020 per liter, melampaui HET yang ditetapkan sebesar Rp 15.700 per liter. Sementara itu, harga telur ayam mencapai Rp 30.750 per kilogram (kg), juga di atas harga acuan yang ditetapkan sebesar Rp 30.000 per kg.
"Memang ada beberapa komoditas yang harganya masih di atas HET, terutama Minyakita. Data SP2KP menunjukkan harga rata-rata Minyakita hari ini Rp 16.020 per liter, padahal HET-nya Rp 15.700. Namun, perlu dicatat bahwa sebelum diterbitkannya Permen (Peraturan Menteri Perdagangan) yang baru, harga Minyakita rata-rata mencapai Rp 16.800 per liter. Jadi, sebenarnya sudah ada penurunan harga," jelas Mendag Budi saat memberikan keterangan pers di Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Rabu (18/2/2026).
Mendag Budi menjelaskan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan harga Minyakita belum sepenuhnya turun adalah proses distribusi dari produsen ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang masih berlangsung. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus berupaya mempercepat proses distribusi ini agar harga Minyakita dapat segera kembali sesuai dengan HET yang telah ditetapkan.
"Kami memahami bahwa harga Minyakita yang masih di atas HET menjadi perhatian masyarakat. Kami terus berkoordinasi dengan semua pihak terkait, termasuk produsen dan BUMN, untuk mempercepat proses distribusi. Kami berjanji harga Minyakita akan turun secepatnya," tegas Budi.
Janji Mendag Budi ini menjadi angin segar bagi masyarakat, khususnya kalangan ekonomi menengah ke bawah yang sangat bergantung pada ketersediaan Minyakita dengan harga terjangkau. Minyakita sendiri diproyeksikan sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng masyarakat dengan harga yang stabil dan terjangkau, sehingga fluktuasi harga yang signifikan dapat berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Selain permasalahan Minyakita, harga telur ayam yang juga berada di atas harga acuan menjadi perhatian pemerintah. Meskipun demikian, Mendag Budi menilai bahwa harga komoditas pangan lainnya secara umum masih terkendali dan berada di bawah harga acuan yang telah ditetapkan.
"Untuk komoditas pangan lainnya, seperti daging sapi dan bawang putih, harganya masih relatif stabil dan berada di bawah harga acuan. Misalnya, harga rata-rata nasional daging sapi adalah Rp 133.618 per kg, sementara HET-nya Rp 140.000 per kg. Begitu juga dengan bawang putih, harga rata-rata nasionalnya Rp 36.875 per kg, sementara HET-nya Rp 38.000 per kg," papar Budi.
Pemerintah menekankan pentingnya transparansi data harga pangan kepada publik. Data harga komoditas yang dihimpun melalui sistem SP2KP dapat diakses oleh masyarakat luas, termasuk media, sehingga perkembangan harga dapat dipantau secara langsung dan akurat. Dengan transparansi ini, diharapkan masyarakat dapat lebih bijak dalam berbelanja dan menghindari panic buying yang dapat memicu kenaikan harga.