KABARNUSANTARA.ID - Harga minyak dunia kembali menunjukkan volatilitas signifikan, ditandai dengan lonjakan harga yang tajam seiring memanasnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Lonjakan ini menambah tekanan inflasi global dan menimbulkan kekhawatiran baru mengenai stabilitas pasokan energi.
Pada Kamis (19/3/2026) pukul 09.15 WIB, data Refinitiv mencatat harga minyak jenis Brent berhasil melambung ke level US$112,74 per barel. Angka ini merupakan kenaikan substansial dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di US$107,38 per barel.
Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga ikut terkerek naik menjadi US$98,64 per barel. Pergerakan harga WTI menunjukkan penguatan signifikan dibandingkan penutupan sesi sebelumnya di angka US$96,32 per barel.
Kenaikan ini mempertegas reli harga yang sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir di pasar komoditas. Jika dilihat sejak awal pekan, tepatnya 16 Maret, harga Brent telah melonjak dari kisaran US$100,21 menjadi melampaui US$110, menandakan kenaikan agregat lebih dari 10% dalam waktu singkat.
Lonjakan harga minyak ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, dilansir dari Reuters. Iran dilaporkan melancarkan serangan balasan terhadap beberapa fasilitas energi penting di kawasan Teluk, termasuk di Arab Saudi dan Qatar.
Serangan tersebut merupakan respons atas insiden sebelumnya yang menargetkan ladang gas South Pars, salah satu cadangan gas alam terbesar di dunia. Dampak serangan ini terlihat nyata pada infrastruktur energi vital di wilayah tersebut.
Fasilitas energi yang berlokasi di Ras Laffan, Qatar, dilaporkan mengalami kerusakan yang cukup signifikan akibat hantaman rudal yang diluncurkan. Selain itu, Arab Saudi juga mengonfirmasi bahwa mereka berhasil memblokir sejumlah rudal balistik dan drone yang mengarah ke instalasi gas mereka.
Situasi konflik ini secara langsung meningkatkan risiko gangguan serius terhadap aliran pasokan energi global. Kekhawatiran pasar semakin memuncak karena jalur pelayaran Selat Hormuz terganggu, yang merupakan jalur vital bagi sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia.
Analis dari SEB, Ole Hvalbye, memberikan pandangan mengenai dampak jangka panjang dari insiden ini. "Serangan terhadap infrastruktur energi akan terus menjadi bahan bakar kenaikan harga minyak," ujar Ole Hvalbye.