KABARNUSANTARA.ID - Pasar modal di kawasan Asia menunjukkan tren positif pada pembukaan perdagangan terbaru dengan mayoritas indeks bergerak di zona hijau. Kenaikan ini mengikuti jejak bursa Wall Street yang berhasil menguat pada sesi sebelumnya setelah sempat tertekan.

Para pelaku pasar saat ini sedang mencermati dinamika harga komoditas energi serta perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Penurunan harga minyak mentah global menjadi salah satu katalis utama yang memberikan ruang bagi penguatan indeks saham di berbagai negara.

Selain faktor energi, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rencana diplomatik Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menjadwalkan kunjungan ke Tiongkok pada akhir Maret mendatang. Langkah ini diambil setelah adanya penundaan pertemuan dengan Presiden Xi Jinping akibat fokus pada konflik di kawasan Timur Tengah.

Indeks S&P/ASX 200 di Australia mencatatkan kenaikan sebesar 0,27 persen di tengah spekulasi kebijakan moneter dalam negeri. Bank Sentral Australia diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan ke level 4,1 persen, yang merupakan titik tertinggi sejak April 2025.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 0,75 persen sementara indeks Topix melonjak hingga lebih dari 1 persen. Performa yang lebih impresif terlihat di Korea Selatan, di mana indeks Kospi melesat 2,94 persen dan Kosdaq naik 1,53 persen.

Lonjakan di bursa Korea Selatan didorong oleh performa gemilang saham-saham raksasa teknologi seperti SK Hynix dan Samsung Electronics. Kedua emiten produsen memori tersebut masing-masing mencatatkan kenaikan harga saham lebih dari 3 persen dan 4 persen.

"Nilai pesanan pembelian untuk chip Blackwell dan Vera Rubin diperkirakan akan mencapai angka 1 triliun dolar AS hingga tahun 2027 mendatang," ujar Jensen Huang selaku CEO Nvidia dalam konferensi pengembang tahunan perusahaan tersebut.

Sementara itu, indeks berjangka Hang Seng di Hong Kong berada di posisi 25.894, sedikit meningkat dibandingkan penutupan sebelumnya di level 25.834,02. Pergerakan ini mencerminkan optimisme investor di tengah fluktuasi pasar global, dilansir dari CNBC Internasional.

Mengenai komoditas energi, harga minyak mentah Brent sempat turun ke level 100,21 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun menjadi 93,50 dolar AS. Meski demikian, harga kembali mengalami penyesuaian dengan Brent berada di kisaran 101,58 dolar AS dan WTI di level 95,47 dolar AS.