Jakarta – Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan terus berupaya meningkatkan kualitas layanan transportasi kereta api di Indonesia, khususnya dalam mendukung operasional Kereta Cepat Whoosh. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan mengoptimalkan infrastruktur pendukung, termasuk aksesibilitas penumpang. Dalam rangka mengantisipasi lonjakan penumpang menjelang masa Angkutan Lebaran 2026/1447 H, Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Bandung (BTP Bandung) di bawah naungan DJKA, secara proaktif melakukan uji coba pengoperasian skybridge Bandung. Skybridge ini dirancang khusus untuk memfasilitasi perpindahan penumpang Kereta Cepat Whoosh yang akan melanjutkan perjalanan menggunakan Kereta Api (KA) Feeder, sebuah layanan penghubung penting yang menghubungkan stasiun Kereta Cepat dengan pusat kota Bandung.
Inisiatif ini merupakan respons terhadap potensi penumpukan penumpang yang kerap terjadi, terutama pada musim-musim puncak seperti Lebaran. Sebelumnya, penumpang KA Feeder masih menggunakan akses yang sama dengan penumpang KA Jarak Jauh, yang berpotensi menimbulkan kepadatan dan memperlambat alur pergerakan penumpang. Dengan adanya skybridge, diharapkan alur pergerakan penumpang dapat lebih teratur, efisien, dan nyaman.
Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Bandung, Endang Setiawan, menjelaskan bahwa uji coba pengoperasian skybridge ini bertujuan untuk mengurai kepadatan penumpang dan memastikan kelancaran alur pergerakan penumpang, sehingga tidak terjadi penumpukan di satu titik. Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa penggunaan skybridge dinilai lebih efektif dan efisien karena dapat mempersingkat jarak tempuh penumpang menuju KA Feeder. Hal ini tentu akan sangat menguntungkan bagi penumpang, terutama mereka yang membawa barang bawaan atau memiliki keterbatasan mobilitas.
"Uji coba pengoperasian skybridge Bandung ini merupakan wujud dukungan DJKA untuk operasional kereta cepat serta untuk meningkatkan layanan transportasi," ujar Endang, dalam keterangan tertulisnya. Beliau juga menambahkan bahwa DJKA berkomitmen untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan demi kenyamanan dan kepuasan penumpang.
Perubahan signifikan yang diimplementasikan adalah pengalihan aktivitas penumpang KA Feeder ke Hall Feeder Kereta Cepat yang berlokasi di bagian timur Stasiun Bandung, mulai tanggal 10 Maret 2026. Dengan adanya hall khusus ini, penumpang KA Feeder akan memiliki ruang tunggu yang lebih nyaman dan terpisah dari penumpang KA Jarak Jauh, sehingga mengurangi potensi kepadatan dan memberikan pengalaman perjalanan yang lebih menyenangkan.
Endang mengimbau agar penumpang KA Feeder dapat menyesuaikan diri dengan perubahan akses naik turun serta ruang tunggu yang baru. Beliau juga menyarankan agar penumpang tidak datang ke stasiun terlalu dekat dengan waktu keberangkatan kereta, guna menghindari keterlambatan dan memberikan waktu yang cukup untuk proses verifikasi tiket dan pengaturan barang bawaan.
Uji coba pengoperasian skybridge ini bukan hanya sekadar uji coba biasa. Lebih dari itu, ini adalah sebuah proses evaluasi yang komprehensif untuk mengidentifikasi potensi masalah dan mencari solusi terbaik guna menghadapi lonjakan penumpang yang diperkirakan akan terjadi pada Masa Angkutan Lebaran 2026/1447 H. Data dan informasi yang diperoleh selama uji coba akan digunakan untuk menyempurnakan sistem dan prosedur operasional, sehingga dapat memberikan layanan yang optimal bagi seluruh penumpang.
DJKA menyadari bahwa kenyamanan dan keamanan penumpang adalah prioritas utama. Oleh karena itu, segala upaya dilakukan untuk memastikan bahwa perjalanan kereta api berjalan lancar, aman, dan nyaman. Selain pembangunan infrastruktur seperti skybridge, DJKA juga terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, menerapkan teknologi terbaru, dan melakukan koordinasi yang intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk operator kereta api, pemerintah daerah, dan aparat keamanan.
Komitmen DJKA untuk mewujudkan transportasi yang inklusif bagi masyarakat juga tercermin dalam berbagai program dan kebijakan yang telah diimplementasikan. DJKA berupaya untuk memastikan bahwa layanan kereta api dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, lansia, dan ibu hamil. Berbagai fasilitas dan layanan khusus disediakan untuk memenuhi kebutuhan kelompok-kelompok tersebut, seperti kursi prioritas, lift, eskalator, dan petugas yang siap membantu.