Jakarta – Pagi ini, pasar keuangan Indonesia kembali dihadapkan pada tekanan mata uang. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah, menembus level Rp 16.800-an. Pergerakan ini tentu menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar, pemerintah, dan masyarakat luas, mengingat dampaknya yang bisa merambat ke berbagai sektor ekonomi.

Menurut data dari Bloomberg pada Rabu, 18 Februari 2026, pukul 09.03 WIB, nilai tukar dolar AS berada di posisi Rp 16.864. Angka ini menunjukkan penguatan sebesar 27 poin atau sekitar 0,16% dibandingkan dengan penutupan perdagangan hari sebelumnya. Pada Selasa sore, dolar AS ditutup pada level Rp 16.837. Namun, sentimen pasar tampaknya berubah dalam semalam, mendorong mata uang Paman Sam tersebut untuk dibuka lebih tinggi pada Rp 16.856 pagi ini.

Sepanjang sesi perdagangan pagi, dolar AS diperdagangkan dalam rentang yang cukup sempit, dengan level tertinggi mencapai Rp 16.865 dan level terendah di Rp 16.850. Fluktuasi ini mengindikasikan adanya ketidakpastian dan kehati-hatian di kalangan pelaku pasar. Mereka tampaknya masih mencerna berbagai informasi dan sentimen yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.

Secara tahunan, pergerakan nilai tukar dolar terhadap rupiah menunjukkan volatilitas yang cukup signifikan. Data historis mencatat rentang pergerakan antara Rp 16.079 dan level tertinggi Rp 17.224. Hal ini menggambarkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelemahan Rupiah

Pelemahan rupiah terhadap dolar AS pada hari ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, sentimen pasar global yang cenderung risk-off. Kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi global, ketegangan geopolitik, atau kebijakan moneter negara-negara maju dapat mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman (safe haven), seperti dolar AS. Ketika permintaan terhadap dolar AS meningkat, nilainya pun akan menguat terhadap mata uang lainnya, termasuk rupiah.

Kedua, faktor internal juga berperan penting. Data ekonomi Indonesia yang kurang menggembirakan, seperti inflasi yang tinggi atau defisit neraca perdagangan yang melebar, dapat memicu kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Hal ini dapat mendorong mereka untuk menjual aset-aset dalam rupiah dan beralih ke aset dalam dolar AS, sehingga menekan nilai tukar rupiah.

Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) juga dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar. Jika pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga acuan atau bahkan menurunkannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, hal ini dapat mengurangi daya tarik investasi dalam rupiah dan memicu pelemahan nilai tukar.

Dampak Pelemahan Rupiah