Jakarta – Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyampaikan pencapaian signifikan di tahun pertama pemerintahannya, yaitu keberhasilan menghemat anggaran negara hingga lebih dari US$ 18 miliar, atau setara dengan Rp 304,79 triliun (dengan asumsi kurs Rp 16.933 per dolar AS). Klaim ini disampaikan di hadapan para pengusaha Amerika Serikat (AS) dalam sebuah forum bisnis di Washington DC, di sela-sela kunjungannya ke Negeri Paman Sam.
Dalam acara Business Summit yang diselenggarakan oleh US Chamber of Commerce, Prabowo memaparkan langkah-langkah strategis yang telah diambil pemerintahannya untuk mencapai penghematan yang signifikan tersebut. "Dalam beberapa bulan pertama memimpin administrasi ini, saya telah menghemat anggaran negara sekitar US$ 18 miliar secara tunai. Penghematan ini berasal dari inefisiensi dan proyek-proyek yang tidak produktif," tegas Prabowo.
Pernyataan ini tentu menarik perhatian, mengingat besarnya angka yang disebutkan. Penghematan sebesar itu dapat dialokasikan untuk berbagai program pembangunan yang lebih mendesak, seperti peningkatan infrastruktur, peningkatan kualitas pendidikan, atau penguatan sektor kesehatan. Namun, bagaimana pemerintah Prabowo berhasil mencapai efisiensi sebesar itu dalam waktu yang relatif singkat?
Menurut Prabowo, kunci dari keberhasilan ini adalah fokus pada eliminasi inefisiensi dan pemangkasan anggaran untuk proyek-proyek yang dinilai kurang produktif. Ia mencontohkan langkah-langkah konkret yang telah diambil, termasuk pembatalan acara-acara seremonial yang dianggap memboroskan anggaran negara.
"Setiap institusi pemerintah menghabiskan cukup banyak uang untuk upacara atau seremonial. Jika itu adalah budaya kita, kita harus mengakui bahwa itu adalah kelemahan," ujarnya. Prabowo menyoroti kebiasaan di berbagai instansi pemerintah yang kerap mengadakan perayaan ulang tahun secara besar-besaran. "Setiap kementerian punya hari ulang tahun, setiap pemerintah provinsi, setiap kabupaten memiliki hari ulang tahun. Bisa Anda bayangkan berapa ratus upacara yang kita adakan setiap minggu dan setiap bulan di seluruh Indonesia? Jadi, saya batalkan saja itu semua. Saya katakan ulang tahun cukup dirayakan di dalam kantor, mungkin dengan makan siang kecil atau makanan bungkus saja, untuk menjaga rasionalitas," jelasnya.
Selain pembatalan acara seremonial, pemerintah juga memperketat aturan terkait kunjungan dinas ke luar negeri. Prabowo mengungkapkan bahwa banyak kunjungan dinas yang dilakukan tanpa perencanaan yang matang dan tidak memberikan hasil yang signifikan. Ia bahkan mencontohkan beberapa kasus yang dianggapnya absurd.
"Pernah ada tim studi banding yang mempelajari pengentasan kemiskinan di Australia. Australia adalah salah satu dari sepuluh negara terkaya di dunia, dan lucunya saat mereka mengirim tim ke sana, saya dengar dari teman-teman saya di Australia, saat itu sedang musim Paskah. Orang Australia sedang libur, jadi tidak ada orang yang bisa diajak diskusi! Hal-hal seperti ini terjadi, dan saya bertekad untuk bersikap rasional. Ada juga laporan tim studi banding ke Jepang sekitar tanggal 20 Desember, saat itu sudah masa Natal! Hal-hal seperti inilah yang saya coba rasionalkan," paparnya.
Langkah-langkah efisiensi yang diambil oleh pemerintah Prabowo ini mengingatkan pada upaya serupa yang dilakukan di Amerika Serikat melalui lembaga bentukan Presiden Donald Trump, yaitu DOGE (Department of Government Efficiency). Lembaga ini sempat dipimpin oleh Elon Musk, pengusaha terkaya di dunia. Prabowo merasa bangga karena pemerintahannya telah memulai upaya efisiensi anggaran ini lebih dulu dari AS.
"Mungkin ini mirip dengan apa yang sedang diupayakan di Amerika Serikat melalui DOGE. Namun, harus saya katakan bahwa saya memulainya lebih dulu beberapa bulan sebelumnya, dan saya merasa berhasil. Saya merasa diberdayakan," ucapnya.