Jakarta – Di tengah tensi geopolitik yang meningkat di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, PT Pertamina (Persero) mengambil langkah proaktif untuk memastikan keamanan armada kapal tanker mereka dan menjaga stabilitas pasokan energi nasional. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, memberikan keterangan resmi mengenai situasi terkini kapal-kapal Pertamina yang beroperasi di wilayah strategis tersebut.
Dalam konferensi pers yang diadakan di Kantor BPH Migas, Jakarta, Kamis (12/3/2026), Simon menjelaskan bahwa saat ini terdapat empat kapal Pertamina yang terlibat dalam operasional di sekitar Selat Hormuz. Dua di antaranya, yaitu MT Paragon dan MT Rinjani, yang dioperasikan oleh anak perusahaan PT Pertamina International Shipping (PIS), telah berhasil melewati Selat Hormuz dengan selamat dan melanjutkan perjalanan ke tujuan masing-masing.
"Alhamdulillah, dua kapal PIS, yaitu Paragon dan Rinjani, sudah berhasil keluar dari Selat Hormuz dan melanjutkan operasionalnya. Kapal-kapal ini membawa muatan minyak mentah untuk pasar non-captive Pertamina, yaitu ke Kenya dan India," ujar Simon. Penjelasan ini mengindikasikan bahwa muatan yang dibawa oleh kedua kapal tersebut tidak ditujukan langsung untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, melainkan untuk memenuhi kontrak komersial dengan pihak ketiga.
Namun, perhatian utama Pertamina saat ini tertuju pada dua kapal lainnya yang masih berada di dalam kawasan Teluk, yaitu MT Pertamina Pride dan MT Gamsunoro. Simon menegaskan bahwa prioritas utama perusahaan adalah keselamatan seluruh awak kapal dan keamanan kargo yang diangkut, mengingat situasi yang dinamis dan berpotensi eskalatif di wilayah tersebut.
"Fokus utama kami saat ini adalah keselamatan para kru kapal dan keamanan kargo yang dibawa oleh MT Pertamina Pride dan MT Gamsunoro. Kami terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait," tegas Simon.
Pertamina menyadari betul bahwa Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global. Ketegangan di kawasan ini dapat berdampak signifikan terhadap kelancaran pasokan minyak mentah dan produk olahan ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, perusahaan mengambil langkah-langkah preventif untuk memitigasi risiko yang mungkin timbul.
Salah satu langkah strategis yang diambil Pertamina adalah dengan melakukan diversifikasi sumber pasokan energi. Simon menjelaskan bahwa Pertamina tidak hanya bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah, tetapi juga menjajaki sumber-sumber alternatif dari wilayah lain seperti Afrika dan Amerika.
"Sebagai langkah antisipasi, kami terus melakukan diversifikasi sumber pasokan energi. Sumber-sumber kita tidak hanya berasal dari Timur Tengah, tetapi juga dari Afrika, Amerika, dan berbagai tempat lainnya. Hal ini penting untuk memastikan keberlangsungan layanan energi kepada masyarakat," jelas Simon.
Diversifikasi sumber pasokan energi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pertamina untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan memiliki berbagai sumber pasokan, Pertamina dapat mengurangi ketergantungan pada satu wilayah tertentu dan meminimalisir dampak negatif dari potensi gangguan pasokan akibat faktor geopolitik atau bencana alam.