Jakarta – Bulan Ramadan selalu identik dengan berbagai hidangan dan minuman segar untuk berbuka puasa. Salah satu bahan yang tak pernah absen adalah kolang-kaling. Namun, ironisnya, para pedagang kolang-kaling di Pasar Tanah Abang, Jakarta, justru merasakan getirnya penurunan penjualan pada Ramadan kali ini. Cuaca hujan yang kerap melanda ibu kota menjadi salah satu faktor utama yang disinyalir menyebabkan lesunya aktivitas jual beli.

Muhammad Reevanza dari detikFinance melaporkan pada hari Rabu, 11 Maret 2026, bahwa keluhan penurunan omzet ini banyak disampaikan oleh para pedagang yang menjajakan dagangannya di kawasan Pasar Tanah Abang. Mereka mengaku, dibandingkan dengan Ramadan tahun-tahun sebelumnya, jumlah pembeli yang datang jauh lebih sedikit.

"Biasanya, awal Ramadan itu ramai sekali. Orang-orang berbondong-bondong cari kolang-kaling buat bikin kolak atau es campur. Tapi sekarang, sepi. Kadang seharian cuma laku beberapa kilo saja," ujar salah seorang pedagang yang enggan disebutkan namanya.

Kolang-kaling memang menjadi primadona saat Ramadan. Teksturnya yang kenyal dan rasanya yang segar sangat cocok dipadukan dengan berbagai bahan lain, seperti santan, gula merah, sirup, atau buah-buahan. Tak heran, kolang-kaling selalu menjadi incaran para ibu rumah tangga dan pedagang takjil.

Di Pasar Tanah Abang, kolang-kaling dijual dengan harga yang bervariasi, tergantung pada kualitas dan ukurannya. Umumnya, harga berkisar antara Rp17.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Meskipun harga relatif stabil, namun tetap saja tidak mampu mendongkrak penjualan di tengah sepinya pembeli.

Para pedagang menduga, cuaca hujan yang sering mengguyur Jakarta menjadi penyebab utama penurunan penjualan ini. Hujan membuat orang malas keluar rumah dan memilih untuk membeli makanan atau minuman yang sudah jadi. Selain itu, hujan juga menyebabkan becek dan genangan air di sekitar pasar, sehingga membuat calon pembeli enggan untuk datang.

"Kalau hujan, sudah pasti sepi. Orang-orang pada malas ke pasar. Mending beli yang sudah jadi saja di pinggir jalan," keluh pedagang lainnya.

Selain faktor cuaca, beberapa pedagang juga menduga bahwa penurunan penjualan ini disebabkan oleh faktor ekonomi. Harga kebutuhan pokok yang semakin meningkat membuat masyarakat lebih berhemat dan mengurangi pengeluaran untuk hal-hal yang dianggap kurang penting.

"Mungkin juga karena sekarang harga-harga pada naik. Jadi, orang-orang lebih mikir buat beli kebutuhan yang lebih penting dulu," ujar seorang pedagang sambil menata dagangannya.