Jakarta – Pasca bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, pemerintah terus berupaya keras untuk memulihkan infrastruktur dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan kabar baik mengenai progres pemulihan pasokan energi, termasuk Bahan Bakar Minyak (BBM), Liquefied Petroleum Gas (LPG), dan listrik, di wilayah-wilayah terdampak. Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Satgas Pemulihan Bencana DPR dengan Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Pemerintah yang digelar pada hari Rabu, 18 Februari 2026.

Menurut Tito, secara umum, kondisi pasokan energi di Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah menunjukkan perbaikan signifikan, bahkan mendekati normal. Jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kedua provinsi tersebut dilaporkan sudah dapat beroperasi 100%. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi masyarakat yang sangat bergantung pada BBM untuk berbagai aktivitas sehari-hari, mulai dari transportasi, kegiatan ekonomi, hingga operasional fasilitas publik.

"Pasokan yang paling penting sekali adalah BBM dan gas," tegas Tito. "Untuk di Aceh (SPBU) sudah 97% beroperasi, tinggal 5 yang belum beroperasi. Sumatera Utara 100%, Sumatera Barat 100%. Jadi ada 5 SPBU saja yang memerlukan atensi di Aceh."

Meskipun sebagian besar SPBU di Aceh telah kembali beroperasi, Tito mengakui bahwa masih ada beberapa titik yang memerlukan perhatian khusus. Pemerintah daerah dan pihak terkait terus berkoordinasi untuk mengatasi kendala yang menghambat operasional SPBU tersebut, seperti aksesibilitas yang terganggu akibat kerusakan infrastruktur jalan.

Lebih lanjut, Mendagri juga menyampaikan kabar positif mengenai distribusi LPG. Ia memastikan bahwa seluruh agen LPG di tiga wilayah terdampak banjir, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, sudah dapat menyalurkan pasokan langsung ke masyarakat. Hal ini penting untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pelaku usaha kecil yang menggunakan LPG sebagai sumber energi untuk memasak dan kegiatan lainnya. Kelancaran distribusi LPG juga dapat membantu menstabilkan harga dan mencegah terjadinya kelangkaan yang dapat memperburuk kondisi masyarakat pasca bencana.

Selain BBM dan LPG, pemulihan kelistrikan juga menjadi prioritas utama pemerintah. Tito melaporkan bahwa kondisi kelistrikan di tiga lokasi bencana tersebut secara umum sudah mulai membaik. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa masih terdapat beberapa wilayah yang menghadapi kendala, terutama di Kabupaten Aceh Tengah.

Aceh Tengah menjadi perhatian khusus karena kondisi geografis dan infrastruktur yang sangat terdampak oleh banjir. Tito menjelaskan bahwa keterbatasan akses akibat infrastruktur jalan yang rusak parah hingga terputus dan berubah menjadi aliran sungai menjadi tantangan utama dalam memulihkan jaringan listrik di wilayah tersebut. Kondisi ini menyebabkan banyak tiang listrik roboh dan kabel putus, sehingga aliran listrik ke rumah-rumah warga terhenti.

"Listrik di Aceh itu sudah 99,90%, ada beberapa daerah seperti di Aceh Tengah, karena memang keterbatasan jalan yang memang betul-betul hilang dan menjadi sungai sehingga jaringannya putus, tapi diberikan genset untuk sementara. Sumut 99,90%, Sumbar 100%," papar Tito.

Untuk mengatasi masalah kelistrikan di Aceh Tengah, pemerintah telah mengambil langkah-langkah sementara, seperti menyediakan genset untuk menyuplai listrik ke wilayah-wilayah yang terisolasi. Namun, solusi jangka panjangnya adalah dengan memperbaiki infrastruktur jalan dan jaringan listrik yang rusak. Pemerintah pusat dan daerah terus berkoordinasi untuk mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur di Aceh Tengah, sehingga masyarakat dapat segera menikmati kembali aliran listrik yang stabil.