Jakarta – Aroma khas Ramadan, dengan segala hidangan dan tradisinya, seakan kurang lengkap tanpa kehadiran kolang-kaling. Buah kecil berwarna putih transparan ini menjadi primadona di bulan puasa, kerap menghiasi meja makan sebagai campuran es buah, kolak, atau sekadar camilan manis pelepas dahaga. Namun, Ramadan kali ini, senyum para pedagang kolang-kaling di Pasar Tanah Abang sedikit memudar. Penjualan mereka mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Pasar Tanah Abang, yang dikenal sebagai pusat grosir terbesar di Asia Tenggara, biasanya dipenuhi hiruk pikuk pembeli menjelang dan selama bulan Ramadan. Aneka kebutuhan pokok, pakaian, hingga pernak-pernik Lebaran membanjiri setiap sudut pasar. Di antara keramaian itu, lapak-lapak penjual kolang-kaling selalu menjadi daya tarik tersendiri. Tumpukan buah kolang-kaling segar, menggugah selera, seolah memanggil para pembeli untuk segera mempersiapkannya menjadi hidangan istimewa berbuka puasa.

Akan tetapi, pemandangan berbeda terlihat pada Ramadan kali ini. Beberapa pedagang tampak lesu menunggu pembeli, sesekali menawarkan dagangannya dengan nada yang kurang bersemangat. Tumpukan kolang-kaling yang biasanya cepat berkurang, kini masih terlihat menggunung di lapak mereka. Ada apa gerangan?

"Penjualan tahun ini memang jauh berkurang, Mas," ujar salah seorang pedagang kolang-kaling di Pasar Tanah Abang, saat ditemui pada Rabu (11/03/2026). "Biasanya, jam segini sudah banyak yang datang beli, tapi sekarang sepi."

Menurut penuturan para pedagang, penurunan penjualan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor utama yang paling sering disebut adalah cuaca yang kurang bersahabat. Hujan deras yang kerap mengguyur Jakarta dan sekitarnya, terutama pada sore hari menjelang waktu berbuka, membuat banyak orang enggan keluar rumah dan berbelanja.

"Kalau hujan, orang malas ke pasar. Apalagi macetnya parah," keluh pedagang lainnya. "Pembeli jadi lebih memilih belanja yang dekat-dekat saja, atau mungkin malah pesan online."

Selain faktor cuaca, beberapa pedagang juga menduga bahwa perubahan tren konsumsi masyarakat turut mempengaruhi penjualan kolang-kaling. Semakin banyaknya pilihan hidangan dan minuman kekinian yang tersedia, membuat kolang-kaling kehilangan daya tariknya di mata sebagian konsumen.

"Sekarang kan banyak minuman yang lagi viral, es kopi lah, boba lah. Anak-anak muda sekarang lebih suka itu," kata seorang pedagang sambil menunjuk ke arah kerumunan orang yang mengantri di sebuah gerai minuman.

Meski demikian, kolang-kaling tetap memiliki penggemar setia, terutama di kalangan masyarakat yang lebih tua. Mereka menganggap kolang-kaling sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi Ramadan dan Lebaran. Selain rasanya yang segar dan manis, kolang-kaling juga dipercaya memiliki banyak manfaat kesehatan, seperti melancarkan pencernaan dan menjaga kesehatan tulang.