Memasuki hari kesebelas Ramadan 1447 Hijriah, umat Muslim di Surabaya dan sekitarnya semakin membutuhkan informasi akurat terkait jadwal ibadah. Di tengah rutinitas harian yang padat dan semangat menjalankan ibadah puasa, kepastian waktu berbuka menjadi penopang ketenangan batin. Mengetahui waktu Maghrib secara presisi bukan sekadar soal jadwal, melainkan bagian integral dari upaya menjaga kekhusyukan ibadah. Informasi yang tepat waktu membantu umat Muslim mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun spiritual, menyambut saat berbuka.
Berdasarkan data jadwal salat yang dirilis oleh Tribunnews, waktu berbuka puasa atau masuknya salat Maghrib di Kota Surabaya pada Minggu, 1 Maret 2026, dijadwalkan pada pukul 17.52 WIB. Sementara itu, waktu salat Isya akan dimulai pada pukul 19.02 WIB. Jadwal ini sangat berharga, tidak hanya bagi warga Surabaya tetapi juga menjadi acuan bagi penduduk di wilayah sekitarnya seperti Sidoarjo dan Gresik, mengingat perbedaan waktu antar daerah tersebut umumnya tidak signifikan. Namun, sangat disarankan bagi masyarakat untuk tetap memantau pengumuman resmi dari otoritas keagamaan setempat atau lembaga terkait jika ada penyesuaian jadwal, demi memastikan ibadah Ramadan tetap berjalan tepat waktu dan khusyuk.
Dalam menjalankan ibadah puasa, umat Muslim dianjurkan untuk segera berbuka begitu azan Maghrib berkumandang. Doa berbuka puasa yang umum dibaca adalah: "Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu," yang berarti "Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka." Doa ini merupakan ungkapan syukur atas nikmat dan karunia Allah SWT.
Selain aspek ibadah, pola konsumsi makanan selama bulan puasa juga menjadi perhatian penting, terutama bagi individu yang sedang menjalani pengobatan. Apt. Steven Victoria Halim, M.Farm., seorang dosen Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya), memberikan panduan mengenai interaksi makanan dan obat saat berpuasa. Ia menekankan bahwa beberapa jenis makanan dapat memengaruhi efektivitas obat jika dikonsumsi terlalu dekat dengan jadwal minum obat.
Makanan yang tinggi lemak, seperti gorengan, hidangan bersantan kental, dan jeroan, dapat memperlambat proses pengosongan lambung. Hal ini berpotensi menghambat penyerapan obat di usus, sehingga kinerja obat menjadi kurang optimal. Steven menjelaskan, "Secara umum, makanan berlemak bisa menghambat atau memperlambat penyerapan obat tertentu. Saat puasa, waktu konsumsi obat menjadi lebih terbatas, sehingga penting memastikan obat dapat terserap dengan baik."
Produk olahan susu seperti susu, keju, dan yoghurt juga perlu dicermati. Kandungan kalsium dalam susu dapat berikatan dengan beberapa jenis obat, membentuk senyawa yang sulit diserap tubuh. "Obat-obatan tertentu, misalnya beberapa jenis antibiotik, dapat berikatan dengan kalsium sehingga penyerapannya berkurang. Karena itu, sebaiknya beri jeda waktu antara konsumsi susu dan minum obat," ujarnya.
Disarankan pula untuk membatasi konsumsi makanan pedas dan asam, seperti sambal dan acar, serta minuman asam. Kombinasi makanan tersebut dengan obat yang berpotensi mengiritasi lambung dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan. Minuman berkafein seperti kopi, teh pekat, dan minuman bersoda juga sebaiknya dikurangi, karena dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil dan berpotensi menyebabkan dehidrasi ringan, yang memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan dan respons terhadap obat.
Sebagai alternatif, Steven menyarankan konsumsi makanan kaya protein seperti telur, ikan, ayam, tahu, dan tempe untuk membantu rasa kenyang lebih lama. Memenuhi kebutuhan cairan tubuh secara bertahap dari waktu berbuka hingga sahur juga krusial untuk menjaga keseimbangan cairan. "Air putih yang cukup membantu mencegah dehidrasi ringan selama puasa. Kondisi tubuh yang terhidrasi dengan baik akan mendukung proses kerja obat di dalam tubuh," tambahnya.
Mengingat potensi interaksi antara makanan dan obat, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter atau apoteker, terutama bagi pasien dengan penyakit kronis atau yang memerlukan jadwal minum obat ketat. "Jangan menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa konsultasi. Penyesuaian jadwal minum obat selama puasa sebaiknya dilakukan bersama tenaga kesehatan agar terapi tetap aman dan efektif," tegasnya.