Jakarta – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh berbagai faktor, termasuk tensi geopolitik yang meningkat seperti konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan angin segar bagi perekonomian Indonesia. Dalam konferensi pers APBN KiTA yang digelar di kantornya di Jakarta Pusat pada hari Rabu, 11 Maret 2026, Purbaya dengan tegas menyatakan bahwa ekonomi Indonesia saat ini berada dalam fase ekspansi yang kuat dan mampu menghadapi dampak negatif dari gejolak perekonomian global tersebut.

Pernyataan ini tentu saja menjadi kabar baik bagi masyarakat Indonesia yang tengah mencemaskan dampak dari situasi global terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri. Purbaya meyakinkan bahwa pemerintah telah mengambil langkah-langkah antisipatif dan memiliki strategi yang tepat untuk mengendalikan dampak negatif tersebut. "Ekonomi sedang mengalami masa ekspansi dalam posisi yang kuat kalau kita harus menghadapi dampak negatif dari gejolak perekonomian global. Jadi teman-teman nggak usah takut, kita bisa mengendalikan dampak negatif dengan baik ke depan karena posisi kita dari posisi yang kuat," ujarnya dengan nada optimis.

Keyakinan Purbaya didasarkan pada sejumlah indikator makroekonomi yang menunjukkan resiliensi dan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia menyoroti stabilitas makroekonomi domestik yang tetap terjaga meskipun tensi geopolitik global terus meningkat. Lebih lanjut, ia bahkan optimis bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 akan mencapai angka yang signifikan, berkisar antara 5,5% hingga 6%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan capaian pada kuartal IV-2025 yang sebesar 5,39%, menunjukkan adanya momentum positif dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Pertumbuhan (ekonomi) triwulan lalu 5,39% dan harusnya triwulan ini akan tumbuh lebih cepat. Saya selalu bilang antara 5,5% sampai 6% mungkin masih bisa tercapai," jelas Purbaya.

Optimisme ini bukan hanya sekadar perkiraan tanpa dasar. Purbaya memaparkan sejumlah data dan indikator yang mendukung proyeksi pertumbuhan ekonomi yang positif. Salah satu indikator yang paling menonjol adalah kinerja PMI (Purchasing Managers’ Index) Manufaktur yang mencapai level 53,8 pada bulan Februari 2026. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam dua tahun terakhir dan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas manufaktur yang signifikan di Indonesia. Peningkatan aktivitas manufaktur ini merupakan sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, karena sektor manufaktur memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan industri.

Selain itu, Purbaya juga menyoroti ketahanan ekonomi Indonesia dari sisi eksternal. Ia menyebutkan bahwa neraca perdagangan Indonesia terus mencatatkan surplus selama 69 bulan berturut-turut. Surplus neraca perdagangan ini menunjukkan bahwa ekspor Indonesia lebih besar daripada impor, yang berarti Indonesia memiliki devisa yang cukup untuk membiayai impor dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, cadangan devisa Indonesia juga berada pada level yang memadai, yaitu sebesar US$ 152 miliar. Cadangan devisa yang besar ini memberikan perlindungan bagi Indonesia terhadap gejolak nilai tukar dan memungkinkan pemerintah untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan.

"Aktivitas ekonomi berbalik menguat sejak awal triwulan IV-2025 dan berlanjut pada 2026. Ini memperkuat optimisme masyarakat serta menopang pertumbuhan ekonomi," kata Purbaya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi Indonesia. Kepercayaan masyarakat yang tinggi akan mendorong konsumsi dan investasi, yang pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Lebih lanjut, Purbaya juga mengklaim bahwa daya beli masyarakat terus membaik dan menguat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Hal ini tercermin dari Mandiri Spending Index yang mencapai 360,7 pada Februari 2026. Peningkatan Mandiri Spending Index ini terutama didorong oleh peningkatan konsumsi pada sektor consumer goods, pendidikan, dan mobilitas. Peningkatan konsumsi pada sektor-sektor ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap kondisi ekonomi dan bersedia untuk mengeluarkan uang untuk membeli barang dan jasa.

"Penjualan ritel tumbuh positif dan index keyakinan konsumen bertahan tinggi. Ini menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap solid dan ekspektasi masyarakat tetap optimis. Anda lihat lagi indikator daya beli yang baik antara lain dari industri otomotif yang melanjutkan tren positif dengan penjualan mobil tumbuh dua digit 12,2% pada Februari 2026. Sementara penjualan sepeda motor tetap stabil positif di 1%," beber Purbaya. Data ini memberikan bukti konkret bahwa daya beli masyarakat memang sedang mengalami perbaikan. Pertumbuhan penjualan mobil dan sepeda motor menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk membeli barang-barang tahan lama, yang merupakan indikasi dari peningkatan kesejahteraan.