KABARNUSANTARA.ID - Pendiri merek fesyen ternama Patagonia, Yvon Chouinard, membuat keputusan monumental pada tahun 2022 dengan menyerahkan seluruh kepemilikannya demi mendukung upaya penanggulangan krisis iklim. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat ia sempat tercatat sebagai salah satu miliarder paling berpengaruh di dunia.
Sebelum langkah bersejarah tersebut, Forbes sempat menaksir kekayaan Chouinard mencapai US$1,2 miliar, atau sekitar Rp 20,4 triliun, berdasarkan nilai perusahaannya. Setelah menyerahkan kendali penuh, pria berusia 83 tahun ini resmi tidak lagi menyandang status miliarder.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (27/8/2025), pihak Patagonia secara tegas menyatakan bahwa kini "Bumi adalah satu-satunya pemegang saham kami". Pernyataan ini menggarisbawahi pergeseran fokus utama perusahaan dari keuntungan semata.
Seluruh laba yang dihasilkan oleh Patagonia, tanpa batasan waktu, kini akan dialokasikan secara eksklusif untuk mendukung misi penyelamatan planet bumi. Struktur hukum baru ini dirancang untuk memastikan keberlanjutan tujuan lingkungan tersebut.
Chouinard bersama istri dan kedua anaknya bekerja sama dengan tim ahli hukum untuk menciptakan kerangka kerja baru bagi perusahaan. Skema ini memungkinkan Patagonia tetap beroperasi sebagai entitas bisnis yang mencari keuntungan, namun hasilnya didedikasikan sepenuhnya untuk kepentingan ekologis.
Keluarga pendiri menyumbangkan 2% saham beserta hak pengambilan keputusan kepada sebuah trust yang bertujuan menjaga integritas misi perusahaan. Sementara itu, mayoritas 98% saham dialihkan kepada organisasi nirlaba bernama Holdfast Collective.
Holdfast Collective memiliki mandat untuk menyalurkan seluruh dana yang diterimanya demi upaya melawan krisis iklim dan melindungi keanekaragaman hayati. Setiap tahun, keuntungan Patagonia, setelah dikurangi kebutuhan reinvestasi operasional, akan diserahkan kepada organisasi nirlaba ini.
Struktur kepemilikan yang unik ini sengaja diciptakan untuk mencegah kemungkinan penjualan perusahaan di masa depan atau pelaksanaan penawaran saham perdana (IPO) yang berpotensi menggeser nilai-nilai inti perusahaan.
"Alih-alih 'go public', bisa dibilang kami 'go purpose'," ujar Chouinard mengenai perubahan filosofi perusahaan tersebut. Ia menekankan bahwa kekayaan perusahaan kini akan difokuskan untuk melindungi sumber kekayaan sejati, yaitu alam semesta.