KABARNUSANTARA.ID - Mencapai kemerdekaan finansial dan menjadi golongan kaya tetap menjadi aspirasi utama bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Namun, kenyataannya menunjukkan bahwa banyak yang terjebak dalam status kelas menengah karena pola perilaku finansial tertentu.
Pola pengeluaran kelas menengah sering kali berada di persimpangan antara pemenuhan kebutuhan hidup yang layak dan keinginan untuk menikmati gaya hidup modern. Mereka berusaha menyeimbangkan antara kebutuhan esensial dan keinginan konsumtif sehari-hari.
Zach Larsen, CEO Pineapple Money, menilai dilema ini membuat kelas menengah sulit melompat ke tingkat ekonomi yang lebih tinggi. Posisi ini memaksa mereka memprioritaskan kebutuhan mendasar seperti tempat tinggal, pendidikan anak, dan kendaraan.
"Banyak dari mereka berfokus pada rumah yang layak, kendaraan yang andal, dan pendidikan anak. Tabungan pensiun serta asuransi juga jadi prioritas," kata Zach Larsen, dilansir dari Yahoo Finance.
Studi menunjukkan perbedaan signifikan dalam manajemen uang tambahan antar lapisan ekonomi. Kelompok berpenghasilan rendah cenderung menggunakan dana ekstra untuk melunasi utang.
Sebaliknya, laporan dari Business Insider menyebutkan bahwa mayoritas kelas menengah berencana menabung jika menerima pemasukan tambahan, sementara kelompok kaya memilih untuk segera menginvestasikannya.
Salah satu faktor utama yang menghambat akumulasi kekayaan adalah beban utang konsumtif. Kelas menengah seringkali terjerat cicilan untuk barang yang nilainya menurun seiring waktu, berbeda dengan orang kaya yang memanfaatkan utang untuk aset produktif.
Pakar keuangan Jacquesdu Toit menyoroti perilaku ini, menyatakan bahwa "Kendaraan mahal, barang mewah, atau kebutuhan non-esensial sering kali dibeli dengan utang," ujar Toit.
Keinginan mengikuti tren sering mendorong pembelian barang bermerek non-mewah, seperti gadget atau peralatan rumah tangga terbaru. Hal ini dilakukan meskipun harus membebani keuangan dengan cicilan.