Setiap tahun, di tengah kehangatan bulan Ramadhan yang penuh berkah, umat Islam di Indonesia senantiasa menantikan dan memperingati sebuah peristiwa monumental: Nuzulul Qur’an. Momen sakral ini dipercaya sebagai waktu diturunkannya wahyu pertama Al-Qur’an kepada junjungan alam, Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini selalu menjadi penanda penting dalam kalender Islam dan menjadi ajang refleksi mendalam bagi setiap Muslim.
Menjelang peringatan Nuzulul Qur’an, pertanyaan mengenai tanggal pastinya kerap muncul ke permukaan, terutama menjelang tahun 2026. Banyak yang ingin mengetahui kapan tepatnya malam istimewa ini akan tiba agar dapat mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Fenomena ini semakin menarik ketika kita melihat kekayaan ragam organisasi Islam di Indonesia, yang terkadang memiliki perbedaan dalam metode penetapan kalender Hijriah. Muhammadiyah dan pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) kerap kali menunjukkan perbedaan dalam penentuan tanggal awal bulan, termasuk untuk peringatan Nuzulul Qur’an. Lantas, bagaimana dengan tahun 2026? Mari kita telaah lebih dalam mengenai kapan Nuzulul Qur’an 2026 akan diperingati, dengan memahami latar belakangnya serta perbedaan versi antara Muhammadiyah dan pemerintah.
Memahami Inti Nuzulul Qur’an: Turunnya Cahaya Petunjuk
Sebelum menyelami detail tanggal peringatan, penting untuk memahami esensi dari Nuzulul Qur’an itu sendiri. Secara harfiah, Nuzulul Qur’an berarti "turunnya Al-Qur’an". Peristiwa ini merupakan fondasi utama keislaman, di mana kalam Ilahi pertama kali disampaikan kepada manusia melalui perantara yang paling mulia.
Kisah di Gua Hira: Titik Awal Risalah
Sejarah mencatat, peristiwa agung ini terjadi ketika Nabi Muhammad SAW tengah menyendiri dan bermeditasi di Gua Hira, sebuah tempat yang sering beliau pilih untuk merenung. Di sanalah, Malaikat Jibril alaihissalam datang menghampiri beliau dengan membawa wahyu pertama dari Allah SWT. Wahyu tersebut adalah lima ayat pertama dari Surah Al-Alaq, yang dimulai dengan perintah agung, "Iqra!" atau "Bacalah!". Perintah ini bukan sekadar seruan membaca, melainkan awal dari sebuah risalah kenabian yang akan mengubah jalannya peradaban manusia.
Penting untuk dicatat bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan secara sekaligus, melainkan berangsur-angsur selama kurun waktu 23 tahun. Namun, para ulama sepakat bahwa wahyu pertama kali diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan. Inilah yang menjadi dasar bagi umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, untuk memperingati Nuzulul Qur’an setiap tanggal 17 Ramadhan. Pemahaman ini menjadi landasan kuat dalam menjawab pertanyaan kapan Nuzulul Qur’an 2026 akan dirayakan.
Landasan Penetapan 17 Ramadhan: Lebih dari Sekadar Wahyu Pertama
Selain merujuk pada riwayat turunnya wahyu pertama, penetapan tanggal 17 Ramadhan juga memiliki kaitan historis dengan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam, yaitu Perang Badar. Perang Badar, yang merupakan kemenangan besar pertama umat Islam melawan kaum musyrikin, juga diyakini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Anfal ayat 41, Allah SWT menyebut hari tersebut sebagai "yaumal furqaan" atau "hari pembeda", yang oleh sebagian mufassir ditafsirkan sebagai hari kemenangan dan pemisah antara kebenaran dan kebatilan, yang jatuh bertepatan pada 17 Ramadhan.