Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi mengaktifkan Posko Nasional Satuan Tugas (Satgas) Ramadan dan Idul Fitri (RAFI) 2026, sebuah langkah proaktif untuk memastikan kelancaran pasokan dan distribusi energi di seluruh Indonesia menjelang dan selama periode penting ini. Posko ini didirikan sebagai pusat koordinasi utama untuk pengawasan, penyediaan, dan pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM), gas, dan listrik, tiga pilar utama yang menopang aktivitas masyarakat dan perekonomian.

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menekankan pentingnya kesiapan ini, mengingat perkiraan lonjakan mobilitas masyarakat yang signifikan selama musim mudik. "Jumlah pemudik tahun ini diperkirakan mencapai angka yang mencengangkan, yaitu 143 juta orang. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuhnya, sekitar 76 juta orang, akan melakukan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat," ungkapnya dalam konferensi pers yang diadakan di kantor BPH Migas, Jakarta Selatan, pada hari Selasa, 12 Maret 2026.

Lonjakan penggunaan kendaraan pribadi ini tentu akan berdampak langsung pada permintaan BBM, dan Posko RAFI 2026 dibentuk untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan tersebut. Lebih dari sekadar respons reaktif, inisiatif ini merupakan bagian dari strategi proaktif pemerintah untuk memastikan kenyamanan dan keamanan masyarakat selama periode mudik.

Ketua Posko Nasional Sektor ESDM periode RAFI 2026, Erika Retnowati, memberikan jaminan bahwa stok bahan bakar saat ini berada dalam kondisi yang aman dan terkendali. "Secara umum, kondisi ketahanan stok BBM kita aman, baik untuk gasoline (bensin), gasoil (solar), kerosin (minyak tanah), maupun avtur (bahan bakar pesawat). Ketahanan stok berada pada kisaran 17 hingga 23 hari, memberikan kita ruang yang cukup untuk merespons fluktuasi permintaan," jelas Erika.

Lebih lanjut, Erika menjelaskan proyeksi dinamika kebutuhan BBM selama periode posko. Diperkirakan bahwa permintaan gasoline akan meningkat sekitar 12% dari kondisi normal, seiring dengan meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi. Sementara itu, permintaan gasoil diperkirakan akan turun sekitar 14,5% dari kondisi normal. Hal ini mungkin disebabkan oleh peralihan sebagian kendaraan komersial ke moda transportasi lain atau efisiensi penggunaan bahan bakar.

Sektor penerbangan juga tidak luput dari perhatian. Konsumsi avtur diproyeksikan meningkat sebesar 2,8%, seiring dengan meningkatnya aktivitas penerbangan untuk mengakomodasi arus mudik dan liburan. Sementara itu, permintaan kerosin diperkirakan naik 4,2%, yang mungkin disebabkan oleh peningkatan penggunaan oleh sektor rumah tangga dan industri kecil.

Untuk memastikan distribusi energi tetap lancar dan efisien selama periode siaga, BPH Migas dan Pertamina telah mengambil langkah-langkah strategis. Mereka menyiagakan 125 terminal BBM yang tersebar di seluruh Indonesia, 7.885 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang siap melayani konsumen, dan 72 depot pengisian pesawat udara (DPPU) yang menjamin ketersediaan avtur untuk penerbangan.

Yuliot Tanjung menambahkan bahwa secara keseluruhan, ketahanan stok BBM dalam ekosistem energi nasional saat ini mencapai lebih dari 30 hari, jauh melebihi batas minimum yang dipersyaratkan. "Tadi, Ibu Ketua menyampaikan bahwa cadangan kita sekitar 23 sampai 25 hari, tetapi secara ekosistem, itu lebih dari 30 hari. Tentu ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam hal ketersediaan BBM di dalam negeri," tegas Yuliot.

Lebih rinci, Yuliot menjelaskan bahwa cadangan BBM non-subsidi tercatat berada jauh di atas batas minimum ketahanan stok. Cadangan Pertamax (RON 92), misalnya, saat ini mencapai sekitar 29 hari, mendekati 30 hari. Pertamina Dex memiliki cadangan hingga 45 hari, menunjukkan kesiapan yang sangat baik untuk memenuhi permintaan pasar. Sementara itu, avtur tercatat memiliki ketahanan stok sekitar 37 hari, memastikan kelancaran operasional penerbangan.