KABARNUSANTARA.ID - Bedug raksasa yang selama ini menjadi simbol dan kebanggaan Masjid Agung Kota Tasikmalaya kini menghadapi tantangan serius. Kerusakan signifikan pada bagian kulit bedug tersebut telah menarik perhatian publik dan pengurus masjid.

Kerusakan yang terjadi berupa robekan pada sisi kiri dan kanan kulit bedug tersebut. Kondisi ini diakibatkan oleh faktor alam, khususnya pengaruh cuaca ekstrem yang terus menerus menerpa instrumen bersejarah tersebut.

Fakta menariknya, bedug ini pernah tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai salah satu yang terbesar. Oleh karena itu, kerusakan yang menimpanya kini menjadi perhatian khusus bagi komunitas setempat.

Ini bukan kali pertama bedug ikonik ini mengalami kemalangan serupa. Insiden kerusakan kulit bedug ini pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2017 silam, menunjukkan kerentanan benda bersejarah ini terhadap lingkungan.

Perbedaan signifikan terlihat pada penanganan kerusakan kali ini dibandingkan kejadian di masa lalu. Sebelumnya, pihak perusahaan yang pernah memberikan hibah langsung turun tangan untuk mengganti bagian yang rusak dengan kulit baru.

Namun, untuk periode kerusakan kali ini, penanganan masalah sepenuhnya berada di tangan internal pengelola masjid. Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) kini harus bergerak lebih proaktif untuk mencari solusi perbaikan.

Pihak DKM kini dituntut untuk mengambil inisiatif secara mandiri mengenai pembiayaan dan teknis perbaikan kulit bedug tersebut. Langkah ini diambil karena tidak adanya pihak pemberi hibah yang secara otomatis menawarkan penggantian seperti sebelumnya.

"Bagian kulit bedug pemegang rekor MURI tersebut robek di sisi kiri dan kanan akibat faktor cuaca," demikian pengurus menyampaikan kondisi terkini instrumen kebanggaan mereka.

Lebih lanjut, mengenai riwayat kerusakan, "Kejadian ini menjadi kali kedua setelah kerusakan serupa pada tahun 2017 silam," ungkap salah satu perwakilan DKM.