KABARNUSANTARA.ID - Pergerakan awal pekan di bursa Asia menunjukkan volatilitas signifikan, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kenaikan harga minyak mentah yang menembus level US$100 per barel menjadi salah satu faktor utama yang membebani sentimen investor di kawasan tersebut.
Investor global saat ini tengah memfokuskan perhatian pada keputusan Presiden Donald Trump yang dikabarkan sedang mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Pulau Kharg di Teheran. Isu ini telah memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global yang lebih luas.
Di Australia, Indeks S&P/ASX 200 terpantau mengalami pelemahan, tercatat turun sebesar 0,31% pada sesi perdagangan awal hari. Penurunan ini sejalan dengan sentimen negatif yang menyebar di pasar regional lainnya akibat ketidakpastian politik.
Sementara itu, pasar Jepang juga ikut terkoreksi, dengan Indeks Nikkei 225 melemah 0,12%, dan Indeks Topix mengikuti dengan penurunan tipis 0,11%. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi jangka pendek.
Namun, pasar Korea Selatan menunjukkan tren yang berbeda, di mana Indeks Kospi berhasil menguat 0,95%, sementara pergerakan di Indeks Kosdaq relatif stabil. Perbedaan performa ini mengindikasikan bahwa faktor domestik mungkin masih memberikan pengaruh signifikan pada pasar tertentu.
Dilansir dari CNBC Internasional, harga minyak mentah AS sempat diperdagangkan stabil di level US$98,7 per barel pada pukul 20.10 ET. Namun, harga minyak Brent, yang menjadi acuan internasional, justru menunjukkan kenaikan 0,48%, mencapai US$103,7 per barel.
Perlu diingat bahwa Presiden Donald Trump pada hari Jumat sebelumnya telah mengeluarkan perintah untuk melakukan serangan terhadap aset militer Iran yang berlokasi di Pulau Kharg. Selain itu, ia juga memberikan peringatan mengenai potensi serangan lanjutan terhadap fasilitas minyak di wilayah tersebut.
"Presiden Donald Trump pada Jumat memerintahkan serangan terhadap aset militer Iran di Pulau Kharg dan memperingatkan serangan lebih lanjut terhadap fasilitas minyak di sana," ungkap seorang sumber terkait kebijakan luar negeri AS.
Peringatan keras tersebut diperkuat oleh pernyataan Mike Waltz, Duta Besar AS untuk PBB, yang menegaskan kembali ancaman tersebut pada hari kemarin. "Mike Waltz, Duta Besar AS untuk PBB, mengulangi peringatan tersebut pada kemarin," ujar seorang perwakilan diplomatik.