Jakarta – Presiden terpilih Prabowo Subianto mengambil langkah signifikan dalam upaya mempercepat transisi energi Indonesia menuju energi bersih dan terbarukan. Ia memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk segera merealisasikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas ambisius, mencapai 100 Gigawatt (GW). Langkah ini dipandang sebagai kunci untuk mempercepat pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT), sekaligus memperkokoh ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang semakin menipis dan berfluktuasi harganya.
Perintah ini disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo dalam acara Syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 Danantara Indonesia, yang diselenggarakan di Jakarta pada hari Rabu, 11 Maret 2026. Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan komitmennya untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri energi dalam waktu yang relatif singkat.
"Kita akan melaksanakan elektrifikasi energi terbarukan dari tenaga surya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita akan membangun 100 gigawatt. Itu sudah perintah saya. Itu sudah keputusan saya dan kita akan buktikan kepada dunia bahwa kita lebih cepat dan efektif dalam hal ini," tegas Presiden Prabowo, menunjukkan keseriusannya dalam mewujudkan visi energi bersih bagi Indonesia.
Ambisi membangun PLTS 100 GW ini bukan hanya sekadar target kuantitatif, tetapi juga merupakan manifestasi dari visi jangka panjang untuk menciptakan sistem energi yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan mampu memenuhi kebutuhan energi nasional secara mandiri. Pembangunan PLTS skala besar ini diharapkan dapat memberikan dampak signifikan terhadap berbagai aspek, mulai dari ekonomi, sosial, hingga lingkungan.
Selain fokus pada pembangunan PLTS, pemerintah juga akan menjalankan program konversi motor listrik sebagai langkah percepatan dalam jangka pendek. Program ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi, sekaligus mendorong penggunaan energi bersih dalam kehidupan sehari-hari. Prabowo menargetkan Indonesia sudah bisa mencapai swasembada energi dalam kurun waktu empat tahun mendatang. Target ini terbilang ambisius, namun menunjukkan keyakinan pemerintah terhadap potensi energi terbarukan yang dimiliki Indonesia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyambut baik perintah Presiden Prabowo dan menyatakan kesiapannya untuk segera menjalankan instruksi tersebut. Ia menjelaskan bahwa pembangunan PLTS 100 GW ini merupakan bagian dari strategi besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil, khususnya diesel, yang selama ini menjadi beban bagi anggaran negara.
"Saat ini kita punya pembangkit itu masih pakai diesel, sebagian batubara, sebagian gas. Arahan Bapak Presiden, agar kita tidak tergantung pada fosil, khususnya diesel, maka diarahkan untuk kita membangun PLTS 100 gigawatt," ungkap Bahlil.
Pembangunan PLTS berskala besar ini, lanjut Bahlil, dimaksudkan untuk mendorong percepatan transisi energi dengan memanfaatkan berbagai sumber energi alternatif yang dimiliki Indonesia. Potensi energi surya di Indonesia sangat besar, mengingat letak geografisnya yang berada di garis khatulistiwa, sehingga menerima sinar matahari sepanjang tahun.
"Optimalisasi pemanfaatan EBT kita lakukan bukan dengan PLTS saja, tapi juga dengan mempergunakan seluruh sumber daerah kita, seperti geothermal, maupun air. Nah, dengan kita memakai power plant seperti ini, maka kita tidak tergantung lagi dari luar negeri terhadap energi fosil," jelas Bahlil.