Jakarta – Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menegaskan posisi Indonesia sebagai destinasi investasi yang sangat menarik di mata investor global. Pernyataan ini didukung oleh data konkret, yaitu proyeksi masuknya modal asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) sebesar US$ 53 miliar, atau setara dengan Rp 895,7 triliun (dengan kurs Rp 16.900), pada tahun 2025. Angka fantastis ini menjadi indikator kuat bahwa fundamental ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang prima, didukung oleh pengelolaan keuangan negara yang disiplin dan inflasi yang terkendali.

Dalam acara Business Summit yang diselenggarakan di US Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat, pada Rabu (18/2/2026) waktu setempat, Prabowo menekankan bahwa angka investasi asing yang signifikan tersebut mencerminkan kepercayaan yang mendalam terhadap ekonomi Indonesia, potensi pertumbuhannya, stabilitas politik yang terjaga, dan arah kebijakan yang jelas dan terukur.

"Investasi asing langsung terbukti sangat sehat. Kami mencatat mencapai US$ 53 miliar tahun lalu, dan saya rasa ini mencerminkan kepercayaan nyata terhadap ekonomi kami, potensinya, stabilitas politik kami, serta arah kebijakan kami," ujar Prabowo dengan penuh keyakinan.

Pemerintah Indonesia, di bawah kepemimpinan Prabowo, menyadari sepenuhnya bahwa stabilitas dan tata kelola pemerintahan yang baik merupakan prasyarat utama untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif. Tanpa kepastian hukum, regulasi yang transparan, dan stabilitas politik, investor asing akan enggan menanamkan modalnya di sebuah negara.

"Tidak ada yang ingin berinvestasi dalam situasi atau atmosfer ketidakpastian, instabilitas, apalagi kekacauan," tegas Prabowo, menekankan pentingnya menjaga stabilitas sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi.

Indonesia patut bersyukur karena telah menikmati periode stabilitas dan perdamaian yang relatif panjang. Hal ini merupakan hasil dari upaya berkelanjutan yang dilakukan oleh para pemimpin terdahulu dan saat ini dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi dari tahun ke tahun. Konsistensi dalam kebijakan dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan telah menempatkan Indonesia sebagai negara yang aman dan menguntungkan bagi investor.

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) Rosan Roeslani mengumumkan data realisasi investasi tahun 2025 yang sangat menggembirakan. Sepanjang tahun tersebut, Indonesia berhasil menarik investasi sebesar Rp 1.931,2 triliun, mengalami peningkatan signifikan sebesar 12,7% year on year (YoY).

Capaian ini tidak hanya memecahkan rekor, tetapi juga melampaui target investasi tahun 2025 yang ditetapkan sebesar Rp 1.905,6 triliun, dengan realisasi sebesar 101,3%. Distribusi investasi juga menunjukkan keseimbangan yang baik antara Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa, dengan Pulau Jawa menyumbang Rp 940,0 triliun atau 48,7%, dan luar Pulau Jawa sebesar Rp 991,2 triliun atau 51,3%. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya terpusat di Pulau Jawa, tetapi juga merata di seluruh wilayah Indonesia.

Dari total investasi yang masuk, penanaman modal asing (PMA) tercatat sebesar Rp 900,9 triliun atau 46,6%, sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 1.030,3 triliun atau 53,4%. Dominasi PMDN menunjukkan bahwa investor lokal juga memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap prospek ekonomi Indonesia. Selain itu, investasi yang masuk berhasil menyerap tenaga kerja sebanyak 2.710.532 orang, memberikan kontribusi signifikan terhadap penurunan angka pengangguran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.