Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang menggembirakan pada penutupan perdagangan hari Rabu, 18 Februari 2026. Kenaikan ini menandai sentimen positif di pasar modal Indonesia, seiring dengan ekspektasi pemulihan ekonomi yang terus bergulir. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, IHSG bergerak dinamis di zona hijau, berkonsolidasi di kisaran level 8.300-an, yang mengindikasikan kepercayaan investor yang solid terhadap prospek pasar.
Berdasarkan data yang dirilis oleh RTI Business, IHSG berhasil mencatatkan penguatan sebesar 1,19%, berakhir pada level 8.310,22. Pergerakan ini menunjukkan ketahanan indeks terhadap berbagai tekanan pasar, baik dari faktor internal maupun eksternal. Selama sesi perdagangan, IHSG sempat menyentuh level terendahnya di posisi 8.227,45, namun dengan cepat rebound dan kembali ke jalur positif.
Volume perdagangan yang tercatat hingga akhir sesi II mencapai angka yang signifikan, yaitu 52,74 miliar saham. Nilai transaksi yang dibukukan juga cukup besar, mencapai Rp 25,33 triliun. Hal ini menunjukkan tingkat aktivitas perdagangan yang tinggi dan minat investor yang kuat terhadap pasar saham Indonesia. Frekuensi saham yang diperdagangkan mencapai 3.201.815 kali, mengindikasikan partisipasi aktif dari berbagai pelaku pasar, baik investor ritel maupun institusi.
Mayoritas saham yang diperdagangkan hari ini bergerak di zona hijau, yang semakin memperkuat sentimen positif di pasar. Secara rinci, terdapat 454 saham yang mengalami kenaikan harga, sementara 216 saham mengalami penurunan. Sebanyak 145 saham lainnya bergerak stagnan, tidak mengalami perubahan harga dari posisi pembukaan. Dominasi saham-saham yang menguat ini memberikan kontribusi besar terhadap kenaikan IHSG secara keseluruhan.
Jika ditinjau dari performa mingguan, IHSG tercatat telah menguat sebesar 3,47% dalam sepekan terakhir. Kenaikan ini menunjukkan tren positif yang sedang berlangsung di pasar saham Indonesia. Meskipun demikian, jika ditarik lebih jauh ke belakang sepanjang tahun 2026, indeks saham masih menunjukkan pelemahan sebesar 3,89%. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar masih dalam proses pemulihan setelah mengalami tekanan di awal tahun.
Kenaikan IHSG pada hari ini didorong oleh beberapa faktor, di antaranya adalah:
- Sentimen Positif dari Rilis Data Ekonomi: Beberapa data ekonomi yang dirilis baru-baru ini menunjukkan sinyal pemulihan, seperti peningkatan aktivitas manufaktur, pertumbuhan penjualan ritel, dan inflasi yang terkendali. Hal ini memberikan keyakinan kepada investor bahwa ekonomi Indonesia sedang berada di jalur yang benar.
- Ekspektasi Kebijakan Moneter yang Lebih Longgar: Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level saat ini atau bahkan menurunkannya dalam beberapa bulan mendatang. Kebijakan moneter yang lebih longgar ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit dan investasi, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada pasar saham.
- Arus Modal Asing yang Kembali Masuk: Setelah sempat mengalami outflow di awal tahun, arus modal asing mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa investor asing mulai melihat potensi investasi yang menarik di Indonesia.
- Kinerja Emiten yang Solid: Sejumlah emiten telah melaporkan kinerja keuangan yang solid untuk kuartal terakhir. Hal ini memberikan keyakinan kepada investor bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia masih mampu mencetak laba di tengah kondisi ekonomi yang menantang.
- Sektor-Sektor Unggulan yang Mendorong Pertumbuhan: Sektor-sektor seperti perbankan, telekomunikasi, dan barang konsumsi terus menunjukkan kinerja yang baik dan menjadi motor penggerak pertumbuhan IHSG.
Analis pasar memperkirakan bahwa IHSG masih memiliki potensi untuk terus menguat dalam beberapa bulan mendatang. Namun, investor juga perlu mewaspadai berbagai risiko yang dapat mempengaruhi pasar, seperti:
- Volatilitas Pasar Global: Ketidakpastian ekonomi global, perang dagang, dan perubahan kebijakan moneter di negara-negara maju dapat mempengaruhi pasar saham Indonesia.
- Perkembangan Pandemi: Meskipun pandemi COVID-19 sudah mulai mereda, namun risiko munculnya varian baru masih tetap ada dan dapat mempengaruhi aktivitas ekonomi.
- Faktor Politik dan Regulasi: Perubahan kebijakan politik dan regulasi juga dapat mempengaruhi sentimen pasar dan kinerja emiten.