Jakarta – Provinsi Maluku Utara (Malut) menyimpan potensi kekayaan alam yang melimpah, namun di sisi lain, wilayah ini juga rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Kondisi geografis dan perubahan iklim yang semakin ekstrem menempatkan masyarakat Malut pada risiko tinggi terhadap banjir, tanah longsor, dan gelombang pasang. Menyadari kerentanan ini, PT Harita Nickel, sebuah perusahaan tambang terintegrasi yang beroperasi di Malut, tidak hanya fokus pada aktivitas bisnis semata, tetapi juga mengambil peran aktif dalam upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana di wilayah tersebut.
Harita Nickel memahami bahwa penanggulangan bencana tidak hanya sebatas respons saat kejadian berlangsung, tetapi juga memerlukan langkah-langkah preventif yang komprehensif. Oleh karena itu, perusahaan ini secara proaktif menggelar berbagai program pelatihan dan edukasi bagi masyarakat, khususnya di wilayah-wilayah yang rawan bencana. Tujuannya adalah untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi risiko bencana sejak dini, sehingga dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Salah satu inisiatif konkret yang dilakukan oleh Harita Nickel adalah Pelatihan Tanggap Bencana yang diadakan di Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) pada tanggal 19 Desember 2025. Desa Kawasi merupakan wilayah yang berdekatan dengan area operasional perusahaan dan juga termasuk dalam kawasan yang memiliki risiko bencana hidrometeorologi yang cukup tinggi. Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang perusahaan dalam memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana.
Dalam pelatihan tersebut, Harita Nickel memfasilitasi pembentukan Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) yang melibatkan 51 warga sebagai garda terdepan dalam kesiapsiagaan di tingkat komunitas. TSBD ini bertugas untuk mengidentifikasi potensi risiko bencana di desa, menyusun rencana kontingensi, serta melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai tindakan-tindakan yang perlu dilakukan saat terjadi bencana.
Pelatihan ini diselenggarakan dengan melibatkan berbagai pihak terkait, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Halsel, Stasiun Meteorologi Oesman Sadik, Kantor SAR Ternate, Puskesmas Pembantu, hingga Pondok Bersalin Desa. Kolaborasi multipihak ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya memahami teori mengenai penanggulangan bencana, tetapi juga mampu melakukan simulasi penanganan darurat secara langsung. Simulasi ini meliputi berbagai aspek, seperti evakuasi, pertolongan pertama, dan pendirian posko pengungsian.
Kepala Seksi Kesejahteraan Pemerintah Desa Kawasi, Bambang Bakir, mengapresiasi inisiatif Harita Nickel dalam menyelenggarakan pelatihan tanggap bencana ini. Ia menilai bahwa pelatihan ini sangat penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi perubahan cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi.
"Latihan ini penting agar masyarakat siap menghadapi dampak perubahan cuaca dan potensi bencana alam di Desa Kawasi. Pembentukan Tim Siaga Bencana Desa memperkuat peran warga sebagai pelaku utama kesiapsiagaan," ujarnya.
Selain pelatihan tanggap bencana, Harita Nickel juga telah berkolaborasi dengan Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia (DRRC UI) dalam program ‘Kawasi Siaga Bencana’ yang digelar di Desa Kawasi. Program ini berlangsung selama beberapa hari dan melibatkan ratusan peserta yang terdiri dari warga, pelajar, aparat desa, hingga unsur perusahaan.
Program ‘Kawasi Siaga Bencana’ mencakup berbagai materi pelatihan, seperti mitigasi bencana, pemadaman api ringan, pertolongan pertama (P3K), serta simulasi evakuasi gempa dan tsunami. Seluruh materi disusun berdasarkan kajian risiko wilayah yang menunjukkan potensi ancaman gempa bumi, banjir, angin kencang, dan gelombang pasang di kawasan tersebut.