KABARNUSANTARA.ID - Harga minyak mentah global kembali mencatatkan kenaikan signifikan, bahkan menyentuh angka US$100 per barel pada awal pekan ini. Lonjakan tajam sejak awal Maret ini menempatkan komoditas energi pada level tertinggi yang belum terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

Kenaikan drastis ini dipicu oleh memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang secara langsung mengancam kelancaran jalur distribusi energi global. Ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran, serta potensi gangguan pada jalur pelayaran vital, mendorong pasar global masuk kembali ke mode krisis energi.

Per data Refinitiv hingga pukul 08.55 WIB Senin (16/3/2026), harga minyak Brent tercatat berada di posisi US$103,8 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) terpantau mencapai US$98,45 per barel pada waktu yang sama.

Pergerakan harga dalam beberapa hari terakhir menunjukkan volatilitas yang ekstrem dan cepat. Harga Brent melonjak dari kisaran US$81,4 per barel pada tanggal 4 Maret menjadi melampaui US$103 per barel pada pertengahan bulan ini.

Secara paralel, harga WTI juga mengalami kenaikan substansial, bergerak dari level US$74,66 per barel pada awal Maret hingga mendekati US$100 per barel pada periode yang sama. Kenaikan tajam ini terjadi setelah konflik militer antara aliansi AS-Israel dengan Iran menyebabkan disrupsi besar pada rantai pasok minyak dunia.

Dilansir dari Reuters, ancaman nyata muncul ketika Iran dilaporkan menghentikan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Langkah ini berpotensi mengganggu sekitar seperlima dari total pasokan minyak global, menjadikannya salah satu ancaman terbesar pada sistem energi dunia dalam beberapa dekade.

Di tengah situasi genting tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan adanya upaya diplomatik. "Washington tengah bernegosiasi dengan sejumlah negara untuk membantu mengamankan jalur strategis tersebut," ujar Presiden Trump pada akhir pekan, merujuk pada Selat Hormuz yang merupakan koridor energi terpenting dunia.

Situasi berpotensi semakin memburuk setelah adanya aksi militer balasan. Dilansir dari Reuters, Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap target militer di Iran, termasuk ancaman lanjutan terhadap Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran yang menangani sekitar 90% ekspor negara tersebut.

Sebagai respons, Iran membalas dengan melancarkan serangan drone yang dilaporkan menghantam terminal minyak di Fujairah, Uni Emirat Arab, yang merupakan pusat penyimpanan dan ekspor penting di kawasan. Terminal Fujairah ini menyalurkan sekitar 1 juta barel minyak mentah Murban per hari, setara 1% permintaan minyak global, meskipun operasi pemuatan dilaporkan telah kembali berjalan.