Jakarta – Menjelang perayaan Idul Fitri, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) telah mengambil langkah proaktif untuk mengantisipasi lonjakan signifikan dalam pergerakan penumpang dan kendaraan yang menggunakan jasa penyeberangan. Proyeksi menunjukkan bahwa akan ada peningkatan sebesar 9,4% dalam jumlah penumpang, mencapai angka 5,8 juta orang, serta kenaikan 9,3% pada jumlah kendaraan yang diperkirakan menembus 1,4 juta unit. Angka-angka ini mengindikasikan tantangan yang cukup besar dalam menjaga kelancaran dan keamanan arus mudik dan balik Lebaran.

Direktur Operasi & Transformasi ASDP, Rio Theodore Natalianto Lasse, menyampaikan dalam sebuah acara Media Gathering di Kantor ASDP, Jakarta, bahwa perusahaan telah menyiapkan berbagai strategi untuk mengatasi potensi kepadatan. "Prediksi kami tahun ini menunjukkan kenaikan sekitar 9-10% baik untuk kendaraan maupun penumpang. Secara nasional, kami memperkirakan akan melayani kurang lebih 5,8 juta penumpang dan 1,4 juta kendaraan," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan kesiapan ASDP dalam menghadapi peningkatan volume perjalanan yang signifikan.

Salah satu fokus utama ASDP adalah optimalisasi layanan di lintasan-lintasan penyeberangan utama. Untuk rute Merak-Bakauheni, yang merupakan jalur penyeberangan tersibuk, ASDP akan mengoperasikan antara 28 hingga 33 kapal per hari. Sementara itu, di Pelabuhan Ciwandan-Wika Beton, yang menjadi alternatif untuk mengurangi kepadatan di Merak, akan disiapkan 9 hingga 12 kapal. Jalur penyeberangan lainnya, seperti BBJ Bojonegara-BBJ Muara Pilu, akan dilayani oleh 10-12 kapal, dan Ketapang-Gilimanuk akan mengoperasikan 28-32 kapal.

Persiapan armada ini bukan hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas. ASDP memastikan bahwa kapal-kapal yang dioperasikan dalam kondisi prima dan memenuhi standar keselamatan yang ketat. Pemeriksaan rutin dan perawatan berkala dilakukan untuk memastikan tidak ada kendala teknis yang dapat mengganggu kelancaran operasional.

Selain penambahan armada, ASDP juga melakukan penguatan layanan melalui berbagai inovasi dan peningkatan fasilitas. Penambahan dermaga express bertujuan untuk mempercepat proses bongkar muat, sehingga dapat mengurangi waktu antrean dan meningkatkan kapasitas pelabuhan secara keseluruhan. Optimalisasi Port Operation Control Center (POCC) berbasis pemantauan real time memungkinkan ASDP untuk memantau kondisi pelabuhan secara komprehensif dan mengambil tindakan cepat jika terjadi gangguan atau kepadatan.

Layanan pelanggan 24 jam juga menjadi prioritas ASDP. Call center dan media sosial ASDP siap melayani pertanyaan, keluhan, dan memberikan informasi terkini kepada para pengguna jasa. Penyediaan toilet portable dan peningkatan sistem penerangan kawasan pelabuhan juga merupakan bagian dari upaya ASDP untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan para penumpang.

Rio Theodore Natalianto Lasse menegaskan bahwa dengan kesiapan armada dan infrastruktur yang telah disiapkan, ASDP optimistis dapat menjaga kelancaran mobilitas masyarakat selama arus mudik dan balik Lebaran, serta memastikan konektivitas logistik tetap terjaga. "Dengan kesiapan armada dan infrastruktur tersebut, ASDP optimistis mobilitas masyarakat tetap lancar sekaligus menjaga konektivitas logistik selama arus mudik dan balik," katanya.

Untuk lebih mendorong kelancaran arus mudik, ASDP juga siap menerapkan stimulus diskon tarif inisiasi Pemerintah sebesar 100% untuk tarif jasa pelabuhan atau setara rata-rata 21,9% dari total tarif penyeberangan. Diskon ini berlaku di 14 pelabuhan dan 7 lintasan strategis bagi pejalan kaki serta kendaraan golongan II dan IVA reguler, serta pejalan kaki dan golongan II express. Kebijakan ini diharapkan dapat meringankan beban biaya perjalanan bagi para pemudik dan mendorong penggunaan jasa penyeberangan.

Kebijakan single tarif juga diberlakukan di Merak mulai 13 Maret pukul 12.00 WIB hingga 20 Maret pukul 15.00 WIB dan Pelabuhan Bakauheni mulai 23 Maret pukul 00.00 WIB hingga 29 Maret pukul 24.00 WIB bagi golongan I hingga VIA. Tujuannya adalah untuk memastikan distribusi layanan lebih merata dan mengurangi antrean panjang di loket-loket tertentu. "Ini tentunya harapannya untuk kelancaran, kelancaran daripada proses muat kendaraan ke atas kapal, jadi pengguna jasa itu tidak perlu memilih harus melewati eksekutif begitu," kata Rio.