Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengambil langkah proaktif dalam mengamankan kelancaran arus mudik dan balik Lebaran Idulfitri tahun 2026. Salah satu upaya yang disiapkan adalah penerapan teknologi modifikasi cuaca (TMC) sebagai langkah antisipasi terhadap potensi curah hujan tinggi yang dapat mengganggu perjalanan masyarakat.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menyatakan bahwa opsi modifikasi cuaca akan dipertimbangkan secara situasional, menyesuaikan dengan kondisi dan prediksi cuaca yang ada. Kemenhub telah menjalin koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk memastikan kesiapan dan efektivitas pelaksanaan angkutan Lebaran.

"Kita melihat situasi cuaca dan akan mengupayakan, bila dimungkinkan, untuk melakukan operasi modifikasi cuaca. Tujuannya adalah untuk mencegah atau setidaknya mengurangi intensitas hujan tinggi selama periode angkutan Lebaran nanti," ungkap Dudy usai menghadiri rapat di Kompleks DPR RI, Jakarta Pusat, pada Rabu (18/2/2026).

Langkah antisipasi ini menjadi krusial mengingat potensi gangguan yang dapat ditimbulkan oleh cuaca ekstrem, terutama banjir dan genangan air, yang dapat menghambat mobilitas masyarakat dan bahkan membahayakan keselamatan perjalanan. Modifikasi cuaca diharapkan dapat menjadi solusi preventif untuk meminimalisir risiko tersebut.

Selain modifikasi cuaca, Kemenhub juga telah menyiapkan serangkaian langkah komprehensif lainnya untuk memastikan kelancaran dan keamanan angkutan Lebaran di berbagai moda transportasi, baik darat, laut, maupun udara. Dudy menegaskan komitmennya untuk memberikan pelayanan yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Kami terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dan keselamatan angkutan Lebaran. Beberapa kebijakan dan persiapan telah kami lakukan, termasuk program mudik gratis, pembatasan operasional kendaraan berat dengan sumbu tiga ke atas, serta peningkatan fasilitas dan pelayanan di pelabuhan penyeberangan, khususnya Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk," jelas Dudy.

Pelabuhan penyeberangan menjadi salah satu fokus utama perhatian Kemenhub mengingat potensi kepadatan dan antrean panjang yang sering terjadi selama periode mudik dan balik Lebaran. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan efisiensi pelayanan di pelabuhan, termasuk penambahan dermaga, optimalisasi jadwal keberangkatan kapal, serta penerapan sistem tiket online.

Transportasi kereta api juga menjadi perhatian serius Kemenhub. Selain modifikasi cuaca untuk mencegah banjir yang dapat merendam jalur rel, Kemenhub juga berupaya meningkatkan kualitas sarana dan prasarana perkeretaapian. Perbaikan dan peningkatan jalur rel, khususnya di daerah-daerah rawan banjir, terus dilakukan untuk memastikan kelancaran perjalanan kereta api.

"Seperti yang terjadi di Pekalongan, PT KAI telah melakukan peninggian rel untuk mengantisipasi banjir. Selain itu, kami juga terus melakukan pemeliharaan dan perbaikan sarana kereta api untuk memastikan keselamatan dan kenyamanan penumpang," imbuh Dudy.