Jakarta – Pasar minyak global dikejutkan dengan penurunan harga minyak yang dramatis pada hari Selasa, mencatat penurunan harian terbesar sejak Maret 2022. Anjloknya harga ini, yang melampaui 11%, dipicu oleh kombinasi faktor, termasuk harapan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait konflik dengan Iran, serta sentimen pasar yang bergejolak. Penurunan tajam ini terjadi hanya sehari setelah harga minyak melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir, menciptakan volatilitas yang signifikan dan membingungkan para pelaku pasar.
Kontrak minyak mentah Brent, patokan global untuk harga minyak, merosot tajam sebesar US$ 11,16 atau sekitar 11%, berakhir pada US$ 87,80 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, mengalami penurunan yang lebih signifikan, jatuh sebesar US$ 11,32 atau 11,9% menjadi US$ 83,45 per barel. Penurunan persentase ini mencerminkan penurunan harian terbesar untuk kedua acuan sejak Maret 2022, menggarisbawahi dampak yang luar biasa dari perubahan sentimen pasar.
Pemicu utama penurunan harga minyak ini adalah serangkaian peristiwa dan pernyataan yang mengindikasikan potensi de-eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, membuat pernyataan yang mengejutkan, memprediksi bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir. Pernyataan ini, yang disampaikan sehari sebelum penurunan harga yang signifikan, mengirimkan sinyal yang kuat ke pasar bahwa risiko geopolitik yang telah mendorong harga minyak lebih tinggi dapat mereda.
Selain pernyataan Trump, faktor lain yang berkontribusi terhadap penurunan harga adalah laporan yang beredar tentang potensi pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang sangat penting untuk pengiriman minyak global. Selat Hormuz, yang terletak di antara Oman dan Iran, merupakan titik transit utama bagi ekspor minyak dari negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah. Setiap gangguan pada lalu lintas maritim di selat ini dapat berdampak signifikan pada pasokan minyak global dan, oleh karena itu, harga minyak.
Menteri Energi AS Chris Wright sempat memicu volatilitas pasar dengan unggahan di media sosial yang mengklaim bahwa militer AS membantu pengiriman minyak keluar dari Selat Hormuz. Ia mengklaim bahwa Angkatan Laut AS berhasil mengawal sebuah kapal tanker untuk memastikan bahwa minyak tetap mengalir ke pasar global. Meskipun unggahan tersebut kemudian dihapus, dampaknya sudah terasa. Pasar merespons dengan cepat prospek pembukaan kembali jalur pelayaran, yang selanjutnya menekan harga minyak.
Analis Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, menyoroti pentingnya potensi pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai faktor utama dalam penurunan harga. Ia mencatat bahwa pasar secara langsung menanggapi kemungkinan berkurangnya gangguan pasokan dari wilayah tersebut. Selain itu, Lipow menunjukkan bahwa penurunan harga minyak juga dapat dilihat sebagai perkembangan positif dari perspektif pemerintah AS, karena harga energi yang lebih rendah dapat membantu meredakan kekhawatiran konsumen dan memberikan dorongan bagi perekonomian.
Sebelum penurunan tajam pada hari Selasa, harga minyak mengalami reli yang signifikan, didorong oleh pemangkasan produksi oleh Arab Saudi dan produsen minyak lainnya dalam aliansi OPEC+. Pemangkasan produksi ini, yang bertujuan untuk menopang harga minyak, memicu kekhawatiran tentang potensi gangguan besar terhadap pasokan global, yang menyebabkan harga melonjak di atas US$ 119 per barel, level tertinggi sejak Juni 2022.
Namun, reli ini terbukti berumur pendek. Harga kemudian berbalik arah setelah Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan pembicaraan telepon yang membahas proposal untuk penyelesaian cepat perang dengan Iran. Trump juga mengindikasikan dalam sebuah wawancara bahwa operasi militer terhadap Iran sudah hampir selesai dan berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal.
Selain itu, Menteri Luar Negeri Israel menyatakan bahwa negaranya tidak menginginkan perang tanpa akhir dengan Iran dan akan berkoordinasi dengan AS mengenai waktu penghentian pertempuran. Pernyataan ini memberikan dukungan lebih lanjut pada gagasan bahwa ketegangan di Timur Tengah dapat mereda, yang selanjutnya berkontribusi pada penurunan harga minyak.